Bhineka dan Islam

By 30 December 2016 Opini Mahasiswa No Comments

whatsapp-image-2016-12-30-at-7-53-27-am

Hai manusia, sungguh Kami telah menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sungguh orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah Mahatahu lagi Maha Mengenal (QS al-Hujurat [49]: 13)

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Sungguh telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat (QS al-Baqarah [2]: 256)

Janganlah kalian memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan (QS al-An’am [6]: 108).

Ayat-ayat Al-Quran di atas sangat jelas menyatakan bahwa Islam mengakui keberagaman atau pluralitas yang oleh masyarakat kita dikenal dengan sebutan kebhinekaan.

Keragaman yang diakui oleh Islam meliputi keragaman dalam etnik, bahasa, suku, bangsa dan keyakinan. Syariat Allah swt tersebut telah berhasil menciptakan keharmonisan selama lebih dari 13 abad. Wilayah kaum Muslim sejak rentang zaman Nabi saw hingga Khilafah Utsmaniyah meliputi Jazirah Arab, benua Afrika, Asia hingga Eropa.

Penerapan syariah Islam di Spanyol, baik kaum Muslim, Nasrani dan juga Yahudi hidup berdampingan, bahkan sampai dikenal oleh sejarahwan Barat, Spain in three Religion with Chalipate. Philip K. Hitti dalam History of Arab menyatakan, “The term Islam may be used in three sense: originally a religion, Islam later became a state, and finally a culture”. Carleton, Ceo Hewwlett Packard pun mengatakan: “Bahwa Peradaban Islam merupakan peradaban terbesar di dunia.

Peradaban Islam sanggup menciptakan negara adidaya dunia (superstate) terbentang dari satu samudera ke samudera yang lain; dari iklim utara hingga tropis dengan ratusan juta orang di dalamnya, dengan perbedaan kepercayaan dan suku.”

Namun sayangnya kini kebhinekaan malah dijadikan senjata oleh musuh-musuh Islam untuk memojokkan kaum muslim.
Bisa kita lihat, gaungan kebhinekaan begitu lantang saat umat Islam menuntut pelaku pembakaran masjid dan penyerangan umat Islam yang tengah melaksanakan shalat Idul Fitri 1436 H di Distrik Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua diadili. Kampanye kebhinekaan begitu masif ketika umat Islam menuntut penista Al-Quran diadili, padahal tuntutan ini tidak ada hubungannya dengan pelanggaran kebhinekaan. Justru ketika penista Al-Quran tidak diadili maka itu adalah suatu penodaan akan kebhinekaan. Bahkan dalam kasus kemaksiatan seperti LGBT yang jelas-jelas melanggar norma bangsa sendiri pun, dibela dengan dalih kebhinekaan.

Namun, ketika ada pelarangan jilbab di Bali, larangan shalat Jumat dan penutupan bandara saat Perayaan Hari Nyepi di Bali, larangan pendirian masjid di sejumlah daerah di Papua, paksaan pemakaian atribut natal oleh pimpinan kepada karyawan muslim tidak ada seruan kebhinekaan. Atas nama kebhinekaan, mengapa mereka tidak menyeru kepada umat Hindu di Bali untuk menghormati jilbab, juga kewajiban shalat Jumat meski di Hari Nyepi? Demi menjaga kebhinekaan, mengapa mereka tidak memprotes larangan pembangunan masjid di Papua, termasuk ketentuan bahwa gubernur Papua harus asli Papua? Bahkan pembakaran masjid di Tolikara Papua pun tidak dimasukkan sebagai bentuk pencideraan terhadap kebhinekaan.

Karena itu, marilah saudaraku kita buka mata. Umat Islam tidak akan dimuliakan dalam sistem Kapitalis-Sekuler. Justru umat Islam akan terus dipojokkan dan didzalimi. Sedangkan dengan penerapan Islam yang menyeluruh, kebaikannya tidak hanya akan dirasakan oleh umat Islam tapi seluruh alam, bukan hanya umat agama lain tetapi hewan dan tumbuhan sekalipun. Karena Allah swt telah berfirman:
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS al-Anbiya [21]: 107)

Wallahu a’lam

#BerIslamJanganSetengahHati
======================
Badan Kerohanian Islam Mahasiswa (BKIM) IPB
CP: Addin (0858-1084-4437)
Add LINE@ BKIM: @yyt6184h
Facebook: fb.com/bkimedia
Twitter/IG: @bkimipb
Web: bkim.lk.ipb.ac.id

Leave a Reply