KEMERDEKAAN HAKIKI

By 26 August 2016 Opini Mahasiswa No Comments

merdeka.pngKita ingat bukan, 71 tahun yang lalu Bung Karno membacakan teks proklamasi yang menandai bahwa tepat pada saat itu Negara Indonesia telah merdeka. Lalu, apakah arti dari kemerdekaan itu sendiri? Apakah merdeka itu berarti kebebasan yang sebebas-bebasnya atau bagaimana? Menurut KBBI, merdeka adalah bebas dari penghambaan, penjajahan, dsb. Sebagai kaum muslimin, tentu kita setuju bahwa merdeka berarti terbebas dari penghambaan kepada selain Allah menuju penghambaan semata-mata untuk-Nya. Lalu, seperti apakah cerminan orang merdeka itu? Untuk mengetahuinya, kita perlu melihat kepada sosok manusia terbaik yang pernah hidup di muka bumi, Muhammad SAW.

Sekitar 1400 tahun lalu Rasulullah memerdekakan sebuah bangsa yang disebutkan dalam Al-Qur’an ayat ke-97 surat At-Taubah sebagai bangsa yang paling parah perangainya. Namun kemudian mereka bisa menjadi bangsa yang sangat mulia karena mengikuti langkah Rasulullah saw yang mulia.

Sabda Nabi SAW, “Ucapkanlah satu kata, jika kalian memberikannya, maka seluruh bangsa Arab akan tunduk kepada kalian, dan orang non-Arab akan membayar jizyah kepada kalian”. Nabi melanjutkan, “Katakanlah, tiada sesembahan yang berhak disembah, kecuali Allah. Muhammad adalah utusan Allah”.

Kemudian hanya butuh waktu kurang dari 40 tahun Islam dapat memimpin dunia dan menutup dua imperium besar yang sangat dzalim pada masa itu, yakni Kekaisaran Persia di Timur dan Imperium Romawi di Barat. Dan sejarah tidak bisa bohong bahwa Islam telah membawa kesejahteraan bagi seluruh umat manusia, serta menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta.

Fakta bahwa Islam sebagai menjadi poros peradaban dunia memang tidak terbantahkan. Al-Khawarizmi sang Bapak Programmer Dunia dengan konsep aljabarnya, Al-Haitsami dengan teori optiknya, Ibnu Batutah dengan petualangan epiknya,  Abbas ibn Firnas sang Bapak Penerbangan Dunia, dan masih banyak ilmuwan muslim lainnya yang ilmunya menjadi pedoman ilmu pengetahuan zaman ini. Itulah cerminan kemerdekaan hakiki yang dicapai oleh Rasulullah dan para pengikutnya.

Mahatma Ghandi pernah berkata, “ Pernah saya bertanya-tanya siapakah tokoh yang bisa merebut hati jutaan umat manusia? Saya merasa lebih yakin bahwa pedang bukanlah cara yang ditempuh Islam untuk mendapatkan tempat di hati manusia, melainkan ia dating dari kesederhanaan, kejujuran, keberanian, tekad, dan keyakinan pada Tuhan dalam menjalankan tugasnya”.

Lalu, bagaimana dengan kita?

Setelah 71 tahun merdeka, nyatanya bangsa kita masih tetap terpuruk. Hutang Negara semakin bertumpuk. Sebagai Negara agraris yang sangat besar, beras masih impor. Belum lagi korupsi, narkoba, kemiskinan, kebodohan, pergaulan bebas, separatisme, kriminalitas merajalela, dan banyak yang lainnya mencengkeram negeri. Bangsa kita masih saja sengsara di tanah sendiri, sedangkan bangsa barat dengan rakusnya melahap emas, minyak, kayu, bahkan harga diri kita. Korupsi menjadi budaya, zina telah menjadi biasa,  orang-orang bobrok dijadikan idola, sosial media menjadi racun paling ampuh manusia, serta kehidupan serba materi telah meracuni otak para pemuda.

Sudahkah kita merdeka? Sedangkan kita tidak bisa melaksanakan Shalat tepat pada waktunya, ketika diseru untuk meraih kemenangan. Lalu untuk apa kampus membangun Masjid kalau jadwal kuliah disusun sedemikian rupa sehingga tidak ada celah untuk shalat berjamaah di sana. Tidak, kita belum merdeka sepenuhnya. Kalau dulu rakyat dijajah secara fisik, kerja paksa, dan sebagainya, sekarang kita dijajah lebih parah lagi, pikiran kita lah yang dijajah. Kalau orang yang diikat tangannya, dia masih bisa berlari. Kalau dibelenggu kakinya, dia masih bisa menggunakan tangannya. Kalau diikat seluruh badannya, dia masih bisa memberontak dengan pikiran dan hatinya. Kalau orang yang dibelenggu pikirannya, maka dia tidak bisa apa-apa.

Supaya kita bisa meraih kemerdekaan hakiki, maka caranya adalah dengan mengikuti langkah orang-orang yang telah mencapai kemerdekaan hakiki. Jalan yang dilalui oleh Nabi Muhammad SAW. Hanya ada satu jalan untuk meraih kemerdekaan hakiki, yaitu Islam. Firman Allah swt dalam Al-Qur’an al-Kariim yang artinya,


Allah SWT berjanji memberi kekuasaan kepada Mukmin yang beramal shalih, jika mereka menyembah Allah dan tidak menyekutukanNya dengan apapun [QS 24: 55]

Maka tidak ada cara lain dan tidak bisa ditawar, hanya dengan kembali kepada Islam dan menerapkannya secara keseluruhan, kemerdekaan hakiki akan tercapai. Sudah saatnya para pemuda bangkit dan mulai membuka mata. Tidak ada waktu untuk hura-hura dan berleha-leha. Pasti sulit pada awalnya, sama seperti awal perjuangan Rasulullah dalam berdakwah untuk menyebarkan Islam ke seluruh dunia. Begitu pun dengan perjuangan Salahuddin al-Ayyubi saat membebaskan Palestina, juga Muhammad al-Fatih saat membebaskan Konstatinopel dari penghambaan kepada Thagut menjadi penghambaan kepada Allah SWT. Selayaknya malam, langit yang paling pekat itulah yang paling dekat waktunya dengan pagi. Cobaan yang paling berat kita rasakan itulah yang insyaallah paling dekat dengan kemenangan.

Oleh : Alief Darul Ikhsan (Mahasiswa angkatan 2016 IPB)

Leave a Reply