Perda Syari’ah Resmi Dihapus : Ummat Kembali Tersakiti

By 17 June 2016 Opini Mahasiswa No Comments

13418976_10153799125946312_6981541184850350401_nKasus Ibu Saeni, seorang penjual makanan yang membuka warungnya ketika bulan Ramadhan beberapa pekan ini sepertinya telah menyukseskan media anti syari’ah untuk menggiring opini umum, sehingga diputuskan penghapusan perda syari’ah di seluruh daerah Indonesia.

Sebelumnya, isi perda yang dijadikan Satpol PP Kota Serang melakukan razia rumah makan ibu Saeni ini berdasarkan pada Perda No 2 Tahun 2010, yang berisi larangan terhadap pemilik restoran, kafe, rumah makan, warung nasi, warung dan pedagang makanan/minuman menyediakan tempat dan melayani orang menyantap makanan dan minuman pada bulan Ramadhan 1437 H, sejak pukul 04.30 WIB sampai dengan pukul 16.00 WIB (12/6 sindonews.com).

Kasus ini pun mencuat dan di blow up ke media, sehingga menimbulkan sikap pro dan kontra dari masyarakat. Pihak yang kontra merasa kasihan dengan ibu pemilik warung ini, sampai-sampai aksi penggalangan dana yang dilakukan secara online untuk mengganti kerugian pemilik warung mencapai 260 juta rupiah lebih (14/6 idntimes.com). Adapun dari pihak yang pro mendukung kebijakan Pemkot Serang sebagai bentuk ketegasan hukum di daerah tersebut.

Penggiringan opini Ibu Saeni ini terus dimanfaatkan oleh pihak anti Islam dan dibenturkan dengan penerapan Perda syari’ah yang diterapkan di beberapa daerah di Indonesia. Mereka menilai perda bernuansa syari’ah ini intoleran. Sehingga opini publik pun terarahkan pada penghapusan perda-perda yang ada, termasuk perda syari’ah.

Di bulan Ramadhan yang mulia ini, kerinduan ummat terhadap penerapan syari’at Islam pun kembali dinistakan, dengan secara resmi pada hari senin, 13 Juni 2016 Presiden Joko Widodo menghapus 3.143 Perda, dengan alasan menghambat pertumbuhan ekonomi dan bertentangan dengan peraturan yang dibuat pemerintah pusat (14/6 pos-metro.com). Ini artinya, perda diatas dan perda lain seperti himbauan berbusana muslim/muslimah di Sumatra Barat, wajib bisa baca Qur’an di Kab Bengkulu Tengah, Kewajiban memakai jilbab di Cianjur, dan perda syari’ah lainnya kini tinggal tulisan yang tak bermakna apa-apa. Ummat pun kini kembali merasakan sakit tak terperi, saat sebagian aturan dari sang penciptanya dianggap tak sesuai dan secara resmi ditiadakan. Namun, Allah yang Maha Perkasa tidak akan pernah membiarkan cahaya agamanya padam. Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 32, yang artinya:

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayanya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai”.

Tentunya, cahaya itu akan diperjuangkan oleh para pejuang yang shalih/shalihah yang selalu merindukan akan kebenaran dan diterapkannya aturan Allah dalam semua aspek kehidupan. Terlebih, kita sebagai mahasiswa dan pemuda yang mempunyai amanah sebagai orang-orang yang harus berada digarda terdepan untuk melawan segala bentuk kedzhaliman yang ada. Sudah saatnya kita membuka pikiran dan hati kita untuk segera menyelamatkan ummat dan mengakhiri kedzhaliman ini. Rasulullah SAW bersabda:

“Jihad yang paling utama adalah mengatakan kebenaran didepan penguasa yang dzhalim” (HR. Tirmidzi)

Dan kasus ini pun sudah selayaknya menjadi pembelajaran berharga dan mengubah paradigma berfikir kita bahwa penerapan sebagian syari’at Islam dibawah naungan sistem bukan Islam, tidak akan ada yang menjaganya. Hanya sistem Islam lah yang mampu menjaganya, tidak hanya sebagian aturan syari’ah, tetapi seluruh syari’ah yang Allah turunkan akan diterapkan dan dijaga secara baik pelaksanaannya.

‪#‎RamadhanStoriesWithBKIM‬
‪#‎BKIMRohisnyaIPB‬
‪#‎BerIslamJanganSetengahHati‬
================
Badan Kerohanian Islam Mahasiswa (BKIM) IPB
CP : Rizki (0857-1649-9918)
Add LINE@ BKIM : @yyt6184h
Facebook : fb.com/bkimedia
Twitter/IG : @bkimipb
Web : bkim.lk.ipb.ac.id

Leave a Reply