Ramadhan : Bulan untuk Mencapai Titik Tertinggi dalam Islam

 

Man climbing beckey route on liberty bell mountain

Perintah untuk berpuasa turun pada bulan Sya’ban tahun ke-2 H bersama dengan tiga perintah Allah lainnya. Perintah yang pertama ialah berpindahnya arah kiblat dari Masjidil Aqsa ke Masjidil Haram. Perintah kedua adalah puasa Ramadhan. Perintah ketiga adalah perintah zakat beserta rinciannya, tentang siapa saja yang harus dizakati, kadarnya dan nisabnya. Perintah yang keempat adalah jihad. Allah SWT telah mengizinkan perang pada tahun 1 H, sedangkan perintah untuk berperang turun pada bulan Sya’ban tahun ke-2 H.
“ Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesunggunya mereka telah dianiaya. Dan Sesungguhnya Allah, benar-benar Maha kuasa menolong mereka itu “(TQS Al-Hajj : 39)
“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang merangi kamu,(tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”

Kala itu bulan ramdhan tahun 2 H baru berjalan setengah bulan, tepatnya pada tanggal 17 Ramadhan para sahabat harus berangkat jihad menuju perang badar. Perjalanan dari madinah menjuju ke badar bukan perjalanan yang pendek, apalagi hanya dengan kendaraan zaman itu, kuda dan unta. Namun, hal tersebut sama sekali tidak mengurangi semangat jihad yang Rasulullah katakan sebagai dzurwah sinamil islam atau puncak tertinggi dalam islam, tak ada kata haus, lapar, lelah, dan alasan penundaan lainnya dari para sahabat. Hal tersebut karena para sahabat telah dipersiapkan untuk menjadi barisan para mujahid dengan keistiqomahannya dalam melaksanakan tiga perintah lainnya, yaitu shalat, shaum, dan zakat.

Seandainya bulan Ramadhan tahun 1437 H ini selesai dilaksanakan dan Khilafah terakhir yang telah Allah janjikan kemudian tegak, kemudian kita dipanggil untuk berangkat jihad melawan musuh-musuh Allah, pertanyaanya adalah akankah kita berangkat? Kalau kita siap berangkat maka kita syukuri itu, Kalau belum, kita mesti bertanya dimana salahnya ramadhan kita, dimana kurangnya ramadhan kita? dimana belum istimewanya Ramadhan kita?

Mari kita renungkan kembali sudah berapa banyak ramadhan kita lewati? Rasulullah SAW pertama kali diperintahkan untuk berpuasa pada tahun 2 H dan wafat pada tahun 11 H. Mungkin kita memiliki lebih banyak waktu bertemu dengan bulan suci ini, tapi apakah dengan ramdhan yang lebih banyak dari rasulullah sudah tertanam jiwa jihad dalam diri kita? Apakah ramadhan kita sudah seperti yang diharapkan Rasul dan para sahabat? Apakah Ramadhan kita sudah mengantarkan kita pada titik tertinggi dalam berislam yaitu jihad, artinya apakah Ramadhan kita telah membentuk jiwa mujahid dalam diri kita?

Kontibutor: Felycitia Iradati Y.

#RamadhanStoryWithBKIM
#BKIMRohisnyaIPB
#BerIslamJanganSetengahHati
.================
Badan Kerohanian Islam Mahasiswa (BKIM) IPB
CP : Rizki (0857-1649-9918)
Add LINE@ BKIM : @yyt6184h
Facebook : fb.com/bkimedia
Twitter/IG : @bkimipb
Web : bkim.lk.ipb.ac.id

Leave a Reply