Telaah Earth Day dalam Pandangan Islam

By 22 April 2016 Opini Mahasiswa No Comments

Berbagai permasalahan lingkungan telah terjadi dewasa ini, baik dalam kawasan kecil maupun global. Banjir, tanah longsor, kekeringan,  pemanasan global, dan sebagainya. Memang tak bisa dihindari, dalam aktivitas kehidupannya, manusia akan selalu berinteraksi dengan alam. Manusia membutuhkan sumberdaya alam untuk menopang kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Akibatnya, kerusakan alam sekecil apa pun pasti terjadi. Persoalannya adalah bagaimana alam ini dapat dimanfaatkan manusia dengan menekan sekecil mungkin dampak kerusakan lingkungan yang terjadi.

Earth Day atau Hari Bumi diperingati secara internasional oleh 192 negara. setiap tanggal 22 April dengan mendatangkan jutaan penduduk (terutama siswa sekolah dan mahasiswa) untuk berkumpul dalam sebuah acara pendidikan lingkungan. Pencetus pertamanya adalah seorang Senator Amerika Serikat yang juga seorang pengajar lingkungan hidup, bernama Gaylord Nelson pada tahun 1970 (earthday.org).

Tidak mengherankan apabila gerakan ini berawal dari Amerika Serikat, pasalnya ambisi negara-negara maju untuk mengeksploitasi alam sangat tinggi. Pandangan mereka tentang kebebasan kepemilikan dan kebebasan individu telah menjadikan mereka tidak pernah merasa puas dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, selalu ingin meraih keuntungan sebesar-besarnya. Akibatnya, mereka tidak lagi peduli dengan dampak kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh industrialisasi.

Kerusakan lingkungan yang awalnya melanda negara-negara maju, sebagai dampak industrialisasi besar-besaran, akhirnya juga menjalar ke negara-negara berkembang. Perusahaan-perusahaan multinasional dari negara-negara maju tersebut juga merambah ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia untuk mengeruk kekayaan alamnya. Akibatnya, kerusakan lingkungan tak hanya menjadi isu lokal, tetapi telah menjadi isu global.

Islam memandang bahwa meskipun alam ini telah disediakan untuk manusia, tidak berarti manusia bebas berbuat apa saja untuk mengeksploitasinya. Sebab, setiap perbuatan manusia senantiasa terikat dengan hukum syara’.  Allah SWT telah melarang manusia membuat kerusakan di bumi, sebagaimana firman-Nya:

وَلا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ بَعْدَ إِصْلاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ (٥٦)
Janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaiki bumi itu. Berdoalah kepada Dia dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS al-A’raf [7]: 56).

bumi
Dalam pandangan Islam, manusia adalah makhluk terbaik di antara semua ciptaan Allah (QS. 95:4; 17:70) yang diangkat menjadi khalifah (QS.2:30) dan memegang tanggung jawab mengelola bumi dan memakmurkannya (QS.33:72).  Cara mengelola dan memakmurkan bumi yang dipilih tentu harus berdasarkan hukum islam, karena hanya Islamlah yang ketika diterapkan secara keseluruhan, tidak hanya mensejahterakan manusia, tetapi juga melestarikan lingkungan sekitarnya, menjadi rahmat bagi seluruh alam.
______________
Jumat, 22 April 2016/14 Rajab 1437 H
Divisi Syiar dan Opini
Badan Kerohanian Islam Mahasiswa (BKIM)
Institut Pertanian Bogor
CP : Rizki (0857-1649-9918)
Add LINE@ BKIM : @yyt6184h
Facebook : fb.com/bkimedia
Twitter/IG : @bkimipb
Web : bkim.lk.ipb.ac.id

Leave a Reply