Hamba Allah, Gelar Tertinggi – RA Kartini

By 21 April 2016 Opini Mahasiswa No Comments

Raden Ajeng Kartini, sebagai seorang muslimah mempelajari 13 juz isi Al-Qur’an bersama gurunya, Kyai Sholeh bin Umar. Kartini mengkritik cara pengajaran Al-Qur’an yang kebanyakan hanya diajarkan untuk membaca Al Qur’an dalam bahasa Arab tetapi tidak dijelaskan arti dan kandungannya, setelah mempelajari isi Al-Qur’an dengan Kyai Sholeh, Kartini mengakui keindahan isi Al Qur’an, bahwasannya Al Quran adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia. Ilmu-ilmu Islam yang beliau dapatkan, beliau tulis dalam surat-surat yang dikirimkan kepada sahabat penanya di Belanda. Kartini juga menulis; Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama disukai. dalam suratnya kepada Ny Van Kol, tanggal 21 Juli 1902, Lalu dalam surat ke Ny Abendanon, bertanggal 1 Agustus 1903, Kartini menulis; “Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah.” (Republika Online 2012).

kartini

Raden Ajeng Kartini adalah wanita cerdas yang kritis dan peduli dengan masyarakat sekitar. Kartini berupaya untuk memajukan kaum wanita di masanya.  Pada saat itu wanita  tidak mendapatkan hak pendidikan yang sama dengan laki-laki, mereka dinomor duakan, bahkan dalam segala aspek kehidupan. Cita-citanya ini diungkapkan melalui suratnya kepada Prof Anton dan Nyonya, pada tanggal 4 Oktober 1902:  “Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan. Bukan sekali-sekali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tetapi, karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam (sunnatullah) sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”

Itulah cita-cita mulia dari RA Kartini, namun sangat disayangkan di era liberalisasi saat ini perjuangan Kartini, banyak disalahartikan oleh wanita-wanita Indonesia, dan telah dimanfaatkan oleh pejuang-pejuang Feminisme untuk menipu para wanita sehingga, muncul persepsi bahwa kebangkitan wanita perlu dilakukan dan ditingkatkan dengan menggunakan nama Kartini. Namun sayang, perjuangan wanita Indonesia kebanyakan telah menyimpang dari perjuangan Kartini, mereka berusaha menyaingi laki-laki dalam berbagai hal, yang kadangkala sampai di luar batas kodrat mereka sebagai wanita. Tanpa mereka sadari, wanita-wanita Indonesia telah diarahkan kepada perjuangan Feminisme dengan membawa ide-ide Kapitalisme–Sosialisme, yang pada akhirnya menjerumuskan wanita-wanita itu sendiri, bahkan membawa kehancuran bagi masyarakat dan negaranya. Para wanita modern justru lebih senang berkarier di luar rumah, meninggalkan atau mengesampingkan tugas utama sebagai ummun wa robbatul bait (ibu dan pengatur Rumah tangga) dan posisi mereka sebagai muslimah yang harus terikat dengan hukum-hukum syara’. Padahal sejatinya, yang diperjuangkan Kartini tidak lain adalah agar perempuan tidak didiskriminasi dalam menuntut ilmu. Kartini meyakini, jika seorang ibu memiliki bekal ilmu yang cukup, akan mampu melahirkan generasi yang berkualitas.

Terlaksananya tugas utama perempuan sebagai ummun wa robbatul bayt adalah hal besar yang menjadi perhatian dalam Islam, sebab terlaksananya tugas utama ini sangat menentukan kebahagiaan keluarga dan kualitas generasi yang dihasilkan. Para perempuan Muslimah yang berkiprah untuk perubahan dengan tidak menjadikan penerapan syariah Islam sesuai dengan metode Rasulullah sebagai jalan dan target perubahan, maka mereka akan merasa lelah dan sia-sia karena perubahan hakiki tidak akan pernah terwujud. Hal ini sebagaimana firman Allah Swt dalam QS. Ar-Ra’du ayat 11: “…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” Allah SWT tidak membeda-bedakan amal perbuatan yang dilakukan oleh perempuan dan laki-laki, sesuai dengan QS Ali ‘Imran [3] ayat 195: “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain…” Dengan demikian, kaum Muslimah saat ini harus kembali pada Islam, menjalankan hukum Islam secara kaffah, sekaligus menyadarkan Muslimah yang lain agar tidak tertipu ide gender dan feminisme yang sejatinya merendahkan martabat mereka, membahayakan generasinya serta menjauhkan dari agamanya.

Leave a Reply