Peran Ilmuwan Muslim dalam Penanganan Kanker

By 4 February 2016 Opini Mahasiswa One Comment

Tanggal 4 Februari diperingati sebagai hari Kanker Sedunia atau World Cancer Day, peringatan ini untuk meningkatkan kepedulian pada kanker dan langkah pencegahan, deteksi dini, maupun pengobatannya. Kejadian kanker telah ditemukan sejak zaman Yunani kuno, kebanyakan orang pada zaman itu menganggap kanker sebagai penyakit yang tidak bisa disembuhkan, begitu pula dengan para ahli kedokterannya, seperti Hippocrates dan Galen yang menyatakan bahwa pasien tidak dapat disembuhkan setelah didiagnosis kanker. Beralih ke peradaban Islam, para ilmuwan muslim telah banyak menulis buku tentang kanker, bahkan mereka telah menemukan obat-obatan tradisonal untuk menyembuhkan kanker. Muhammad ibn Zakariya al-Razi yang dikenal di barat sebagai Rhazes telah menulis buku al-Shukuk al’a Jalinus (Doubts about Galen) yang berisi pembantahan terhadap teori kanker dari Galen. Tulisan al-Razi tentang cacar dan campak diakui originalitas dan keakuratannya oleh World Health Organization (WHO) pada tahun 1970 sekitar 1000 tahun setelah beliau wafat (932 M), al-Razi merupakan orang pertama yang menulis tentang penyakit menular dan penanganan ilmiahnya. Selain al-Razi, Akhaveyni Bukhari juga membantah teori Hippocrates dan Galen, ia mengatakan bahwa kanker dapat disembuhkan pada fase awal dengan operasi bedah yang beliau jelaskan di bukunya Hedayat al-Mota’allemin fi al-Tibb (An Educational Guide for Medicinal Students).

Operasi bedah adalah temuan yang mengagumkan dalam penanganan kanker sehingga penyembuhan kanker bukan lagi suatu hal yang mustahil. Adalah Abul Qasim Az-Zahrawi atau dikenal di barat sebagai Albucacis atau Alzahravius, Bapak Ilmu Bedah Dunia yang pertama kali menemukan alat-alat bedah, menemukan cara menjahit luka bedah, cara membalut tulang dan banyak hal lain seputar ilmu kedokteran, bedah, anastesi bahkan kecantikan atau kosmetik, beliau adalah penemu lipstik yang bentuknya tidak berubah hingga saat ini. Sejak abad ke-12 M peradaban Islam di Spanyol telah menggunakan deodorant, hand lotion, hand cream, mouth washes, detergen, dan parfum yang dikenalkan oleh beliau. Buku-buku beliau banyak diterjemahkan dan masih digunakan hingga saat ini di universitas-universitas eropa. Stanley Lane Poole pada 1887 dalam buku ‘The Moors in Spain’ mengakui kehebatan yang dicapai umat Islam di Spanyol. Dengan nada menyindir, Lane Poole menyatakan kemilau yang diperoleh Kristen setelah Islam diusir dari Spanyol bagaikan bulan yang cahayanya hasil meminjam dari umat Islam.

“Sesungguhnya Allah tidaklah menurunkan penyakit kecuali Dia turunkan pula obatnya bersamanya. (Hanya saja) tidak mengetahui orang yang tidak mengetahuinya dan mengetahui orang yang mengetahuinya.” (HR. Ahmad 1/377, 413 dan 453. Dan hadits ini dishahihkan dalam Ash-Shahihah no. 451)

Barangkali hadits tersebut adalah alat pacu bagi para ilmuwan muslim, untuk bersemangat dalam mencari ilmu Allah, mereka memiliki rasa optimis bahwa ada obat untuk setiap penyakit, jauh berbeda dengan para ilmuan yunani yang telah dengan pasrahnya mengatakan bahwa kanker tidak bisa disembuhkan. Begitu luar biasa sumbangsih para ilmuwan muslim bagi perkembangan ilmu pengetahuan dunia, bahkan ilmuwan barat pun mengakuinya.

Kemajuan peradaban Islam pada saat itu tentu bukan suatu kebetulan yang terjadi tanpa alasan, adalah sistem Khilafah yang menjamin pendidikan bagi seluruh warga negara secara gratis hingga perguruan tinggi dengan fasilitas sebaik mungkin. Pendidikan pada masa Khilafah Islam menyediakan sarana dan prasarana yang bermutu, bahkan siswanya diberikan beasiswa berupa emas seharga satu dinar (4,25 gram emas) perbulan, perpustakaan dan koleksi buku yang melimpah, sehingga tak heran jika rata-rata tingkat kemampuan literasi di Dunia Islam lebih tinggi daripada Byzantium dan Eropa. Kurikulum yang diberikan sangat baik dan didukung oleh peran negara sehingga melahirkan cendekiawan muslim yang tidak hanya terdepan dalam bidang sains, tapi juga banyak menulis kitab-kitab tentang tafsir, fikih, dan lain-lain.

Menurut Montgomery Watt dalam bukunya, The Influence of Islam on Medieval Europe (1994), peradaban Eropa tidak dibangun oleh proses regenerasi mereka sendiri, ia mengakui bahwa peradaban Islam adalah motornya. Ilmu pengetahuan dan teknologi memang terus berkembang hingga saat ini, namun tanpa batasan yang jelas, lihat saja fenomena perdagangan organ tubuh manusia yang terjadi di Indonesia, India, Afrika, Rumania, Moldova bahkan Turki dan Amerika Serikat. Perkembangan ilmu pengetahuan yang ada saat ini digunakan untuk meraih keutungan materi yang sebanyak-banyaknya, bahkan rela merampas hak hidup orang-orang miskin yang tercekik ekonominya, berbeda dengan perkembangan ilmu pengetahuan pada masa Kekhilfahan yang menjadikan al Qur’an dan Hadits sebagai dasar, melakukan penelitian untuk menyelesaikan problematika ummat serta membuktikan kebesaran Allah SWT. Semua catatan emas kejayaan pendidikan di masa kekhilfahan tersebut semakin membuktikan bahwa kunci kejayaan umat Islam adalah penerapan syariah secara kaffah di bawah naungan Khilafah Islam. Wallahu a’lam bi ash-shawab.

——————-

World Cancer Day

Bagi teman-teman yang ingin mengkaji Islam dan berdakwah bersama BKIM IPB silahkan mengisi form yang kami sediakan di bit.ly/daftarIschingBKIM

Badan Kerohanian Islam Mahasiswa (BKIM) IPB

CP : Rizki (0857-1649-9918)

Add LINE@ BKIM : @yyt6184h

Facebook : fb.com/bkimedia

Twitter/IG : @bkimipb

Web : bkim.lk.ipb.ac.id

Join the discussion One Comment

  • Adam Halimonson says:

    1.Muslim harus menyesuaikan hodupnya sebagai persiapan untuk hidup si akhirat.
    2. Pedoman hidup didunia sesuai dgn guidance /panutan yang telah ditunjukkan Rasulullah. Dpl. Balance antara jasmani dan rohani.
    3. Balance antara membaca dan bekerja serta selaly mengingat akan kebesaran Allah dgn berzikir.

Leave a Reply