Dibalik Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

By 24 December 2015 Opini Mahasiswa No Comments

Dibalik Peringatan maulid Nabi SAW
oleh Badan  Kerohanian Islam Mahasiswa (BKIM) IPB

Menurut catatan sejarah, Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pertama kali diperkenalkan pada masa Sultan Shalahuddin al-Ayyubi (1138-1193 M) dengan tujuan memperkokoh semangat jihad umat Islam, ketika tentara Salib ingin merebut tanah suci Yerusalem.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. sendiri tidak lain merupakan sebuah sikap pengagungan dan penghormatan (ta‘zhîman wa takrîman) terhadap beliau sebagai pembawa risalah sekaligus penebar rahmat bagi seluruh alam. Sejatinya, peringatan maulid nabi merupakan perwujudan kecintaan kepada Allah, karena Muhammad saw. adalah kekasih-Nya.

Namun demikian, Rasulullah Muhammad saw, keluarga dan sahabat-sahabat beliau tidak menjadikan hari kelahirannya sebagai hari  yang setiap tahunnya harus diperingati. Tanpa mengurangi sikap pengagungan kita terhadap Baginda Rasulullah saw, peringatan maulid nabi pun tidak akan bermakna apa-apa—selain tradisi dan seremonial belaka—jika kita tidak mengambil apa yang beliau bawa yakni al-Quran dan as-sunnah,  sebagai jalan hidup, sebagaimana firman Allah Swt:

وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

Apa saja yang diberikan Rasul kepada kalian, terimalah; apa saja yang dilarangnya atas kalian, tinggalkanlah. (QS al-Hasyr [59]: 7).

Kencintaan kita kepada Rasulullah SAW harus dibuktikan, diantaranya dengan menjadikan beliau sebagai suri tauladan, banyak mengingat beliau, menampakkan kekhusyukan dan ketundukan ketika mendengar nama beliau, memperbanyak shalawat kepada beliau, mencintai al Qur’an dan membuktikannya dengan membaca, memahami dan mengamalkan isinya, lemah-lembut dan belas-kasih kepada umat Nabi saw,  bersikap zuhud di dunia dan tidak mengutamakan dunia, bersabar atas kefakiran dan kekurangan.

Muslim yang cinta pada Rasulullah akan melaksanakan islam secara keseluruhan, tidak hanya mengambil perkara yang sesuai dengan keinginan kita, sementara yang tidak sesuai keinginan kita, kita tinggalkan. Akibatnya, mungkin kita hanya mengikuti dan meneladani Nabi saw. pada aspek-aspek personal, moral dan ibadah mahdhah-nya saja; tidak mengikuti dan meneladani Nabi saw. dalam urusan menerapkan hukum syariah, mengelola pemerintahan, berpolitik, mengelola perekonomian, membangun interaksi kemasyarakatan, menyelesaikan berbagai perkara dan perselisihan yang terjadi di masyarakat dengan hukum Islam serta menegakkan kekuasaan dan sistem yang menerapkan syariah Islam.
______________
12 Rabi’ al-awwal 1437 H
Badan Kerohanian Islam Mahasiswa
Institut Pertanian Bogor
CP Rizki (+62 857-1649-9918)
‪#‎BKIMIPB‬

Leave a Reply