Surat untuk Ibu

By 22 December 2015 Opini Mahasiswa No Comments

Perempuan mana yang tak bahagia diberikan bunga, kartu ucapan yang cantik, hadiah yang dibungkus indah..

Tetapi rasanya sungguh tak pantas bila sembilan bulan lamanya engkau mengandung kami, menahan beban tubuh yang bertambah dan rasa sakit yang mendera. Seakan tak peduli dengan rasa lelah, tak pernah menyerah mendidik kami sejak kecil hingga kini

Tak pantas, sungguh tak pantas, bila hanya 1 dari 365 hari yang kami dedikasikan untukmu, ibu.

Maka biarlah, tak perlu ku ucapkan selamat hari ibu. Biar ku gantikan dengan tekad baik mulai hari ini.

Ibu, mulai hari ini aku akan rajin membaca Al qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya dalam setiap masalah hidup yang ku hadapi, agar di hari akhir kelak Ibu dan Ayah dipakaikan jubah (kemuliaan) yang tidak pernah ada di dunia. Berusaha menunaikan birul walidain seoptimal usaha yang bisa dilakukan, serta ucapan “Allohummaghfirlii dzunubiilii waa liwaalidayya warhamhumaa kamaa rabbayanii shogiiroo” distiap do’aku.. Semoga, diakhirat kelak mampu memberikan kunci pintu surga untukmu, karena ini lah hadiah terbaik yang ingin kuberikan untukmu..

Ibu, engkau begitu mulia. Bahkan Rasulullah menyebutkan namamu sebanyak tiga kali setelah itu baru menyebut nama Ayah.

Namun.. Dengan bertambahnya usiamu, semakin melemahnya kekuatanmu.. Ibu, kulihat hari ini beban yang kau pikul begitu berat.. Begitu banyak Ibu yang akhirnya harus keluar rumah demi membantu ekonomi keluarga, dan semakin hilanglah gelar “ummu wa rabbatul bayt” yang biasanya tersemat padamu. Zaman sekarang memang serba sulit bu, semuanya serba mahal dan akan semakin mahal.

Sistem yang ada saat ini juga mendukung para wanita keluar rumah, katanya jumlah kaum hawa saat ini lebih banyak dari kaum adam, apa jadinya kalau semua wanita ‘cuma’ jadi ibu rumah tangga? kata mereka. Lapangan pekerjaan dibuka lebar-lebar untuk kami, bu. Katanya kami telaten dan teliti, apalagi bayaran kami lebih murah. Terkadang aku juga berpikir, apakah ‘mereka’ memandang kami sebagai mesin uang penghasil devisa saja? Padahal ada yang lebih penting dari sekadar uang yang bisa habis dalam sekejap. Menjadi seorang ibu, mendidik generasi anak-anak cerdas nan shalih, investasi dunia-akhirat.

Sedih rasanya, ketika orang-orang memandang sebelah mata profesi ibu rumah tangga. Seperti kata ibu, menjadi seorang ibu bukan profesi, karena profesi terbatas dengan gaji. Menjadi seorang Ibu, pendidik generasi adalah dedikasi tiada akhir.

Meski tak sedikit juga teman-temanku yang sudah tak sabar menjadi sosok ibu yang seutuhnya. Mengingat betapa Islam memuliakan sosok Ibu. Menjadi seorang Ibu pasti berat ya, bu? Tapi aku dan teman-teman sepertinya belum menyiapkan apa-apa untuk itu. Bu, izinkan aku berkata : aku ingin menjadi seperti Ibu, yang mendidik anak-anaknya sendiri, melewati tahapan demi tahapan perkembangan hidup.

Ibu, aku ingin seperti Ibunda Imam Syafi’i yang begitu luar biasa mendidik anaknya sejak usia 7 tahun sudah hafal al qur’an, menjadi ulama besar yang karyanya digudakan hingga saat ini.

Ibu, aku ingin meneladani Ibunda Muhammad Al Fatih yang dalam usia 21 tahun menaklukan kota konsantinopel, yang konon katanya sangat sulit ditaklukan. Ibu aku ingin mendidik anak-anakku seperti Ibunda Muhammad Al Fatih yang mampu mendidik anaknya hingga pandai menghafal alquran, hadits, memahami ilmu fikih, matematika, ilmu falak, strategi perang dan fasih berbicara dalam banyak bahasa.

Ibu, aku juga ingin seperti Fatima al-Fihri, muslimah cerdas yang mendirikan Universitas Al-Qarawiyin, universitas tertua dan pertama di dunia. Cendekiawan muslim ini memperkenalkan ilmu pengetahuan yang luas kepada seluruh dunia, jauh sebelum munculnya renaissance.

Meski sulit, ibu, tolong do’akan kami, anak-anakmu, para calon ibu cerdas pendidik generasi masa depan.
_____________
Kamu muslimah dan tertarik untuk mengkaji lebih dalam mengenai Islam?
Hubungi kami di :
0856-9361-8180 (Elis)
Departemen Keputrian
Badan Kerohanian Islam Mahasiswa
BKIM IPB 2015
#BKIMRohisnyaIPB

Leave a Reply