Reportase Acara Seminar Nasional Ekonomi Islam BKIM IPB

10553705_10152556508496312_1213799689449737958_o B193OcLCEAA-I0w B195BuiCAAAkGwv B1939EDCMAA2XC3

 

10801966_313153895556465_6081426085295227542_n

Masyarakat Ekkonomi ASEAN (MEA) merupakan kerjasama ekonomi antar negara Asean. Isu MEA banyak menuai kontroversi baik di kalangan masyarakat dan akademisi, tidak terkecuali di kampus pertanian IPB. Untuk itu, Badan Kerohanian Islam mahasiswa Institut Pertanian Bogor, minggu (9/11/14) , menyelenggarakan Seminar Nasional Ekonomi Islam dengan tema: “Dilema Masyarakat Ekonomi ASEAN: Berdaulat Pangankah?”. Acara berlangsung dari pukul delapan hingga dua belas di gedung kuliah A, Fakultas Pertanian IPB. Kurang lebih 150 peserta yang hadir merupakan mahasiswa dari IPB ataupun non-IPB.

Peserta disambut dengan hiburan marawis dari Keluarga Mahasiswa Nahdatul Ulama (KMNU) IPB. Kemudian MC membuka acara dengan menyampaikan latar belakang acara diiringi dengan takbir yang membakar semangat peserta. Lalu pembacaan tilawah dan penyampaian sambutan oleh ketua pelaksana, ketua umum BKIM, dan pembina BKIM.

Pembicara pertama, Prof. Roedhy Poerwanto, Guru Besar FAPERTA IPB, menyampaikan materi tentang kedaulatan pangan sebelum dan sesudah MEA. Beliau memaparkan bahwa sebelum MEA, sebenarnya sudah ada China Asean Free Trade Agreement (CAFTA) yang meliberalisasi secara progressif barang dan jasa. Pada CAFTA Indonesia memiliki potensi untung dalam produk hortikultura dan ikan karena Cina menetapkan standar yang cukup rendah untuk produk impornya, namun di lain sisi Indonesia juga digempur oleh impor terutama beras. Pemerintah kurang medukung petani sehingga lahan pertanian terus berkurang dan lebih memilih untuk impor beras dari Thailand.

MEA akan lebih liberal daripada CAFTA. Dengan pilar free movement of goods, perdagangan akan sangat bebas tanpa hambatan, tanpa tarif. Pada fuzzy cluster negara Asean, Indonesia berada di cluster tiga, negara berkembang dan masih memiliki banyak persoalan dalam negri sehingga Indonesia dirasa belum siap untuk bersaing. Sebagai negara berpenduduk terbesar dengan tingkat konsumsi bahan pokok tinggi sementara luas lahan pertanian terus berkurang, Indonesia diprediksi akan lebih banyak mengimpor daripada produksi sendiri. Kedaulatan pangan pun lagi-lagi hanya akan menjadi wacana.

Pembicara kedua ialah Farid Wadjidi, Pakar Politik Luar Negeri yang juga pemimpin redaksi tabloid Media Umat. Dipaparkan bahwa MEA merupakan implementasi dari Visi ASEAN 2020 yaitu integrasi ekonomi regional sehingga mewujudkan liberalisasi ekonomi kedepan. Disampaikan juga kritik terhadap MEA yang mengusung kapitalisme global. Kritik pertama, kapitalisme global mengedepankan produksi padahal persoalan ekonomi sekarang adalah distribusi. Untuk memenuhi angka kebutuhan bahan pokok, pemerintah memasok beras baik produksi sendiri maupun impor, tapi tidk memikirkan bagaimana caranya supaya seluruh masyarakat bisa mengakses beras tersebut, bisa sampai ke mulut-mulut rakyat. Kritik kedua, kapitalisme global memiliki standar global yang melemahkan produk Indonesia. Hal tersebut menyebabkan lemahnya ekspor, Indonesia pun hanya menjual energi dan jasa.

Setelah disampaikan fakta dan kritik tentang MEA oleh kedua pembicara sebelumnya, pembicara ketiga,  Dwi Condro Triono sebagai Pakar Ekonomi Islam, membahas solusi islam mengenai MEA. Dalam pandangan Islam tentang MEA yaitu terkait dengan kepemilikan, harta harus dikembalikan kepada pemiliknya. Kepemilikan dibagi 3 yaitu kepemilikan pribadi, umum dan kelompok. Kepemilikan yang berhak dijual kepasar hanyalah kepemilikan pribadi, sedangkan kepemilikan  umum tidak dapat diperjualbelikan. Sehingga kebutuhan masyarakat terpenuhi karena tidak adanya privartisasi kepemilikan umum.

Kapitalisme terbagi atas kapitalisme subjek dan objek. Negara barat merupakan kapitalisme objek, sedangkan Indonesia adalah kapitalisme objek. Pemerintah tidak menolak MEA 2015 karena pemerintah Indonesia menjadi boneka bagi terwujudnya kepentingan barat. Untuk menerapkan ekonomi Islam maka  yang harus dilakukan adalah dengan merubah sistem negaran Indonesia menjadi sistem Islam. Sistem ini berdiri dengan ditegakkannya khilafah.

Acara diselingin dengan nasyid dari VOR Nasheed Insantama. Kemudian aksi teatrikal dari BKIM IPB. Teatrikal menggambarkan betapa awalnya MEA yang dikira merupakan potensi malah menjadikan rakyat budak di negeri sendiri dengan kapitalisme liberalnya.

Sebagai penutup ustad Dwi Condro menyampaikan satu kunci agar Indonesia dapat berdaulat pangan yaitu surat Al-Araf aya 96t: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”

Leave a Reply