Press Release Seminar Nasional Ekonomi Islam BKIM IPB

By 11 November 2014 Opini Mahasiswa No Comments

Dilema Masyarakat Ekonomi Asean: “Berdaulat Pangankah?”

“Ingatlah firman Allah yang berbunyi, Jika negeri ini beriman dan bertaqwa, pasti Kami bukakan pintu barakah dari langit dan bumi.” Itulah closing statement dari ustadz Dwi Condro Triono selaku salah satu pembicara acara Seminar Nasional Ekonomi Islam (SNEI). Acara yang berlangsung pada Ahad (9/11) merupakan salah satu acara puncak dari rangkaian acara yang diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Badan Kerohanian Islam Mahasiswa (BKIM) IPB yang mengambil tema “Dilema Masyarakat Ekonomi Asean 2015: Berdaulat Pangankah?”.

Acara yang diselenggarakan di Gedung Kuliah A (GKA) Fakultas Pertanian IPB tersebut dihadiri oleh tidak kurang dari 200 peserta dari berbagai macam kalangan. Mulai dari mahasiswa internal IPB hingga mengundang mahasiswa sekitar Bogor dan Jawa Barat, seperti Universitas Padjajaran (UNPAD), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Pakuan, Universitas Ibnu Khaldun, dan lembaga pendidikan lainnya. Dalam kesempatan luar biasa ini, turut hadir sebagai pembicara adalah Prof. Dr. Ir. Roedhy Poerwanto, M.Sc selaku guru besar IPB, Ustadz Farid Wadjdi selaku pemimpin redaksi majalah Al-Wa’ie, dan ustadz Dwi Condro Triono, Ph.D selaku pakar ekonomi Syari’ah.

Materi yang disuguhkan oleh para pembicara ternyata sangat menggugah pemikiran peserta hingga dapat memahami betapa rencana program Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015 merupakan sebuah program yang dapat merugikan Indonesia akibat semakin mudahnya produk asing masuk ke Indonesia, bahkan tanpa biaya dan pajak. Akibatnya, produk dalam negeri akan semakin sulit untuk dijual yang menyebabkan kerugian yang akan dirasakan oleh pedagang-pedagang kecil. Meskipun memiliki sisi positif, akan tetapi melihat kondisi Indonesia saat ini, MEA belumlah cocok diterapkan di Indonesia. Hal itu semakin diperjelas melalui penjelas Prof. Roedhy bahwa agar Indonesia tidak mengalami kerugian, maka rakyat Indonesia harus benar-benar dipersiapkan hingga benar-benar siap. Jika belum siap, sebaiknya Indonesia tidak mengambil resiko dan memaksakan diri.

Selaku seorang wartawan, ustadz Farid Wadjdi menyampaikan bahwa pemerintah Indonesia secara tegas harus menolak MEA yang merupakan salah satu program kapitalisasi global. Berbicara mengenai hal itu, maka program MEA tidak lepas dari dunia politik. Berjalannya MEA merupakan dampak dari diterapkannya sistem ekonomi kapitalisme di Indonesia, yaitu seluruh kegiatan ekonominya serba bebas dan dikuasai oleh para pemilik modal. Oleh karena itulah, untuk menghentikan MEA, sudah seharusnya kita mengganti sistem ekonomi kita saat ini.

Lantas, sistem ekonomi apa yang bisa menghentikan MEA dan menyejahterakan seluruh rakyat Indonesia? Dalam penjelasannya, ustadz Dwi Condro mengatakan, bahwa di dalam sejarah, ada sebuah sistem ekonomi yang sudah terbukti berhasil menyejahterakan seluruh penduduknya dan membebaskan mereka dari kemiskinan. Bukan Sosialisme dan Kapitalisme, yang telah terbukti kegagalannya. Sistem ekonomi tersebut adalah sistem ekonomi Islam. Hanya dengan Islam, Indonesia akan menjadi sejahtera dan terlepas dari berbagai permasalahan yang mendera saat ini. Jika Indonesia menerapkan Islam, maka seperti janji Allah, Allah pasti akan menurunkan keberkahan. Yang menjadi masalah adalah, apakah pemerintah Indonesia mau menerapkannya, atau tidak?

Setelah diisi penjelasan materi yang luar biasa, acara SNEI pun akhirnya ditutup dengan pembagian doorprize berupa buku Draculesti, hiburan dengan penampilan For Nasyid SMAIT Insantama, teatrikal mengenai dampak MEA bagi Indonesia dari tim teatrikal BKIM, dan do’a. Meskipun acara SNEI sudah berakhir, namun segenap pejuang Islam tetap yakin, bahwa cepat atau lambat, Islam pasti akan tegak kembali. Allahuakbar!

Leave a Reply