JADIKAN HIDUPMU LEBIH “HIDUP”

oleh:
Nur Islami Rizki S. (Opini Media Deputi BKIM IPB)

Kenapa hidup harus dihidupkan? Ada apa sebenarnya dengan “hidup”? Kita semua mungkin nyadar kalo hidup di dunia ini hanya sekali dan cuman sebentar aja. Tapi yang sangat sering tidak kita sadari adalah kita sudah melewatkan detik demi detik, minggu, bulan, tahun, tanpa melakukan sesuatu. Dan kalaupun sudah melakukan sesuatu,  apakah kita pernah sadar sesuatu itu bermakna atau tidak buat hidup kita?

Kebanyakan remaja punya semboyan: “Muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk syurga”. Enak banget ya hidupnya. Seakan-akan hidup cuma untuk dijalani, tanpa mencari makna dari hidup itu. Udah jadi rahasia umum bahwa kaum remaja lebih banyak menghabiskan waktu untuk bergelut dalam kesenangan. Gaya hidupnya hedonistik, kiblat hidupnya sekularistik, semangat hidupnya materialistik. Naudzubillah. Bersyukurlah bagi kita yang mampu memenej hidup kita sejak dini. Ini gak cuma bermanfaat buat hidup kita tapi juga menyumbangkan manfaat bagi manusia yang lain. Nah sobat, mulailah bertanya mau dibawa kemana hidup kita?

Mari simak baik-baik. Kalau kita perhatikan, kita akan menjumpai banyak sekali fenomena yang terjadi di sungai. Misalnya, sepotong kayu yang terapung atau ikan yang mati misalnya. Udah bisa dipastiin mereka bakal ngikut kemana aja aliran sungai tadi membawa mereka. Demikian juga batu yang ada di dasar sungai. Dari hari ke hari tetep aja posisinya diam di tempat semula, tidak bergerak kalau tidak ada yang menggerakkan. Tapi coba kita perhatikan ikan yang hidup di sungai tadi. Mau itu jenis ikan apapun. Mereka tidak statis, mereka melakukan gerakan yang dilakukan secara mandiri. Si ikan sesekali memang terbawa arus sungai yang cukup deras, tapi ikan tersebut pasti berusaha mempertahankan posisinya atau bahkan berenang melawan arus yang ada.

Nah, setelah memerhatikan kehidupan di sungai tadi, bandingkan dengan keadaan kita sekarang. Bagaimana kita menjalani hidup kita? Apakah kita memang ‘hidup’ seperti ikan yang hidup tadi, atau sebenernya kita hidup tidak ada bedanya dengan sesuatu yang mati? Apakah selama ini kita udah menjalani hidup ini dengan melakukan gerakan secara mandiri yang punya arah tertentu, punya tujuan tertentu sehingga gerak kita pun jadi tertentu? Atau selama ini kita menjalani hidup ini dengan cara ngikutin orang lain, gak ngerti apa yang jadi tujuan hidup kita, di dunia ini mau nyari apa dan mau ngapain? Kalau orang lain sekolah, ya ikutan sekolah tanpa pernah tau sebenernya mau nyari apa sekolah, akhirnya kita ngejalanin masa-masa sekolah dengan rutinitas yang gak bermakna. Bahkan kita tidak merasakan perbedaan antara orang yang sekolah dan orang yang tidak sekolah. Nah sobat, kita mesti melakukan suatu perubahan dalam diri kita, supaya hidup yang kita jalani bisa “lebih hidup”.

 

Kepribadian dalam Konsepsi Islam

Dalam “frame” Islam, kepribadian seseorang tidaklah ditentukan oleh warna kulitnya, bentuk hidung atau alisnya, juga tidak ditentukan oleh tanggal lahirnya apalagi shio atau bintangnya. Semua hal di atas sama sekali gak ada hubungannya dengan kepribadian. Ibarat energi, kepribadian itu adalah sesuatu yang abstrak, tetapi kita dapat memahami dan menginderanya. Coba kamu pikir deh, kira-kira kamu bakal mengatakan seseorang itu baik, jahat, apa sekedar dilihat dari pakaiannya aja? Kalo pake baju merah berarti orangnya berani, kalo pake baju warna hijau berarti orangnya ramah, baju garis-garis berarti orangnya tegas. Apa emang begitu kalian menilai kepribadian seseorang itu baik atau buruk? Jawabannya nggak kan. Kita melihat kepribadian dari tingkah lakunya. Jadi kepribadian seseorang itu sebenernya akan ditentukan oleh bagaimana tingkah laku orang tersebut.

Nah, ternyata yang menentukan kepribadian seseorang itu adalah pemahaman yang dia miliki. Loh kok bisa? Gini, kalian pernah jalan-jalan kan? Pasti pernah dong. Ketemu siapa hayo? Cowok? Cewek? Orang tua? Anak kecil? Ada yang kita kenal dan ada juga yang nggak kita kenal. Tingkah laku apa yang kita tentukan akan sangat ditentukan oleh pemahaman seperti apa yang ada dalam benak kita. Misal, pas lagi jalan-jalan eh kebetulan ketemu sahabat waktu SMP. Apa yang akan kalian lakukan? Ditegur, salaman, tanya kabar, ngajak makan bareng, ngobrol-ngobrol, ketawa-ketiwi, iya kan? Beda halnya kalo kita ketemu orang yang nggak kita kenal. Boro-boro nyapa, kenal aja nggak. Sekarang setuju kan kalau tingkah laku kita itu sangat ditentukan oleh pemahaman yang kita miliki? Harus setuju dong ya. Maksa 😀

Lalu dari mana pemahaman ini dimiliki seseorang? Yup, dari proses berfikir yang dia lakukan terhadap fakta yang dia indera. Bukankah manusia diberi potensi/kemampuan berfikir dengan adanya akal? Nah proses berfikir inilah yang bakal menentukan model pemahaman seperti apa yang bakal dimiliki seseorang, ketika dalam berfikirnya itu dia pake sebuah pola pikir tertentu. Adanya pola pikir inilah yang sebenernya akan membuat kesimpulan berfikir seseorang itu berbeda sesuai dengan apa yang dia jadikan sebagai pijakan dalam berfikirnya, karena pola pikir ini akan membuat seseorang tadi hanya akan memakai informasi-informasi tertentu yang sesuai dengan landasan berfikirnya untuk dia gunakan dalam memahami segala sesuatu/fakta.

Nah sobat, kalo kita udah bisa punya kepribadian Islam, dijamin kece deh 😀 Soalnya seseorang yang bener-bener memiliki kepribadian Islam itu akan tampil sebagai sosok yang punya sifat-sifat khas dan unik, ia akan muncul dengan sifat yang menonjol, jadi titik perhatian karena ketinggian ilmu dan kekuatan jiwanya. Pertanyaannya, mau memiliki kepribadian seperti apakah kamu? Yuk sama-sama intropeksi diri :)

Join the discussion One Comment

Leave a Reply