oleh: Salsabila Arya (Opini Media Deputi BKIM IPB)

Tahukah kamu?
Berdasarkan pemetaan penghasil beras terbesar dunia, Indonesia menduduki posisi ketiga setelah Cina dan India (http://www.mapsofworld.com/world-top-ten/rice-producing-countries.html#)

Hal itu terjadi, dan jelas sekali menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam menghasilkan beras untuk mengatasi permasalahan pangan nasional secara mandiri. Bahkan ternyata fakta tersebut tidak hanya diakui oleh pemerintah dan pengamat pertanian Indonesia, namun juga mata-mata jeli asing tidak pernah lepas dari sumber daya alam Indonesia yang cukup menggiurkan untuk dieksploitasi lebih jauh.

Namun, ternyata kekayaan yang melimpah ruah dan potensi besar itu sama sekali tidak memberi dampak pada kesejahteraan masyarakat Indonesia. Indonesia yang merupakan Negara agraris justru menjadi Negara yang tidak pernah lepas dari kemiskinan dan kelaparan, bahkan jika menelusuri wilayah Indonesia secara keseluruhan, tidak pula semua wilayah di Indonesia memperoleh pelayanan yang memadai dari pemerintah baik dalam hal pangan maupun kebutuhan lainnya.

Jika kita menapak jejak di papua, akan kita lihat bukti perhitungan data yang dikeluarkan BPS April 2013, 27 persen warga Papua Barat masih hidup di bawah garis kemiskinan, sementara di Papua angkanya mencapai 30 persen. jika kita menelusuri lebih jauh, akan didapati bahwa penderita kelaparan tersebut justru mereka yang terlibat langsung dalam proses penyediaan pangan (petani).

Pada akhirnya permasalahan ini tentu bukan hanya menjadi beban bagi pemerintah namun juga kita sebagai mahasiswa pertanian dan intelektual muslim. Menjadi tamparan tentunya bagi Institut Pertanian Bogor ketika mendapati fakta bahwa ternyata pertanian yang begitu besar ini justru tidak menjadikan masyarakatnya jauh dari kelaparan dan kemiskinan.

 

Lantas apakah solusi dari permasalahan ini?

Apakah impor merupakan wujud solusi mendasar ataukah parsial?
Apakah dengan menjadi mahasiswa yang baik dan rajin belajar menjadi solusi jangka panjang bagi permasalahan ini?
Apakah masyarakat kelaparan bisa menunggu lebih lama sampai seluruh orang di Indonesia menjadi baik untuk menyelesaikan permasalahan pertanian?
Atau bagaimana? []

Temukan jawabannya di “Seminar Pertanian dan Peradaban Islam” | 08.00- 14.00 | 19 Mei 2013 | @Auditorium AMN Fateta | HTM 10.000 | 100 Pendaftar pertama GRATIS Tiket Workshop Internet Marketing | Ketik PIM2013-Nama-NRP kirim ke 0877 5563 9675

Leave a Reply