Wajibkah Memasang Hijab Dalam Walimahan?

By 28 January 2011 Opini Mahasiswa No Comments

HUKUM MEMASANG TABIR BAGI TAMU DALAM JAMUAN WALIMAH

Tanya:

Bagaimana hukum memasang tabir bagi tamu yang datang dalam jamuan Walimah untuk memisahkan kelompok tamu laki-laki dengan tamu wanita? Jika memang wajib, batasannya seperti apa? Apakah pemasangan tabir itu  boleh sekedarnya sehingga masih memungkinkan  para tamu untuk  saling melihat satu sama lain (meski cuma sebagian) ataukah pemasangan tabir itu harus sempurna sehingga tidak memungkinkan tamu laki-laki melihat tamu wanita secara total dan juga sebaliknya?

Jawab:

Islam adalah sebuah agama yang memiliki sistem yang khas dan unik yang berbeda dengan sistem yang lainnya. Dalam kaitannya dengan pengaturan hubungan pria dan wanita di dalam masyarakat Islam, syariat Islam telah menetapkan satu aturan yang khas yang dibangun atas dasar keimanan terhadap aqidah Islam. Karena itu memahami aturan Islam tentang pengaturan hubungan pria-wanita dalam masyarakatnya harus dilakukan dengan pemahaman apa adanya, tanpa mengukurnya dengan kebiasaan, tradisi, atau adat istiadat di tempat manapun dan sistem apapun.

Terkait dengan pengaturan hubungan pria dan wanita, Islam telah berkehendak memisahkan jama’ah pria dan jama’ah wanita dalam masyarakat Islam. Artinya, hukum asal yang harus diterapkan dalam masyarakat Islam adalah terwujudnya ( انْفِصَالٌ ) (keterpisahan) antara komunitas laki-laki dengan komunitas wanita. Tidak boleh ada pertemuan (اجتماع) atau percampuran (اختلاط) kecuali pada kondisi-kondisi yang diizinkan oleh syara’.

Adapun keharusan terpisahnya jama’ah wanita dengan jama’ah laki-laki, maka hal ini digali dari sekumpulan dalil. Diantaranya (yang paling menonjol) syara’ telah mewajibkan sholat jum’at dan sholat jama’ah bagi laki-laki tetapi tidak bagi wanita, syara’ juga mewajibkan jihad bagi kaum laki-laki tetapi tidak bagi wanita, syara’ juga mewajibkan laki-laki bekerja menanggung keluarga, sementara wanita ditugaskan untuk mengurusi rumah dan tidak wajib bekerja, ketika Nabi mengizinkan para wanita untuk ikut sholat jama’ah di masjid bersama Nabi, beliau memisah shof laki-laki dengan shof wanita (padahal mungkin untuk menyatukannya), ketika selesai sholat Nabi memerintahkan para wanita keluar lebih dulu baru disusul pada laki-laki, ini semua ditambah lagi fakta bahwa Nabi dalam aktifitas ta’limnya beliau memisah kelompok laki-laki dengan kelompok wanita, bahkan menentukan hari khusus untuk mengajari mereka di tempat tertentu. Semua dalil ini menunjukkan dengan jelas bahwa syara’ berkehendak memisah jama’ah laki-laki dengan jama’ah wanita dalam masyarakat Islam.

Atas dasar ini, maka wajib hukumnya memisah tamu laki-laki dengan tamu wanita dalam jamuan Walimah, sebab hukum asal yang dituntut oleh Islam adalah terpisahnya jama’ah laki-laki dan jama’ah wanita dalam masyarakat yang menerapkan hukum Islam. Pelanggaran terhadap ini dipandang sebagai sebuah kemaksiatan yang akan membuat pelakunya dituntut dan dijatuhi hukuman di akhirat jika ia tidak bertaubat.

Akan tetapi, hukum memisah tamu laki-laki dengan tamu wanita bukan berarti wajib bagi penyelenggara Walimah untuk memasang tabir yang memisahkan antara tamu laki-laki dengan wanita. Alasannya, hukum asal pemisahan jama’ah laki-laki dan jama’ah wanita adalah satu hal, sementara pemasangan tabir adalah hal yang lain. Hal ini tidak ada bedanya dengan pembahasan antara pembahasan batasan aurat dengan pembahasan pakaian untuk menutupi aurat. Dua pembahasan ini adalah pembahasan yang berbeda dan tidak boleh dicampur adukan. Karena itu pernyataan bahwa hukum asal jama’ah laki-laki dan jama’ah wanita adalah terpisah harus didukung dengan dalil sebagai mana pernyataan wajib memasang tabir pada jamuan Walimah juga harus didukung dengan dalil.

Jika sebuah penjelasan tidak didukung dengan dalil, baik berupa dalil yang kuat maupun  sekedar sesuatu yag mirip dalil  (شبهة الدليل) maka penjelasan itu tidak ada nilainya sama sekali dalam pandangan Islam, dan tidak bisa dipandang sebagai hukum syara’.

Selanjutnya, studi terhadap persoalan ini, yakni pemasangan tabir pada jama’ah laki-laki dan jama’ah wanita yang sudah dipisah akan menunjukkan bahwa syara’ tidak memerintahkan pemasangan tabir itu, baik secara sebagian maupun secara sempurna.

Adapun dalil yang menunjukkan hal ini adalah riwayat Imam Muslim dari Anas bin Malik,  beliau berkata:

تَزَوَّجَ رَسُوْلُ الله  صلى الله عليه وسلم  فَدَخَلَ بِأَهْلِهِ. قَالَ فَصَنَعَتْ أُمِّيْ أُمُّ سُلَيْمٍ حَيْسًا فَجَعَلَتْهُ فِيْ تَوْرٍ فَقَالَتْ يَا أَنَسُ اذْهَبْ بِهذا إلى رَسُوْلِ الله  صلى الله عليه وسلم  فَقُلْ بَعَثَتْ بِهذا إِلَيْكَ أُمِّيْ وهِيَ تُقْرِئُكَ السَّلاَمَ وَتَقُوْلُ إِنَّ هذا لَكَ مِنَّا قَلِيْلٌ يَا رَسُوْلَ الله. قَالَ فَذَهَبْتُ بِهَا إلى رَسُوْلِ الله  صلى الله عليه وسلم  فَقُلْتُ إِنَّ أُمِّيْ تُقْرِئُكَ السَّلاَمَ وَتَقُوْلُ إِنَّ هذا لَكَ مِنَّا قَلِيْلٌ ياَ رَسُوْلَ الله. فَقاَلَ ضَعْهُ ثُمَّ قَالَ اذْهَبْ فَادْعْ لِيْ فُلاَناً وَفُلاَنًا وَفُلاَناً وَمَنْ لَقِيْتَ وَسَمَّى رِجَالاً. قَالَ فَدَعَوْتُ مَنْ سَمَّى وَمَنْ لَقِيْتُ. قاَلَ قُلْتُ لأَنَسٍ عَدَدُكُمْ كَانُوْا قَالَ زُهَاءَ ثَلاَثِمِائَةٍ وَقَالَ لِيْ رَسُوْلُ الله  صلى الله عليه وسلم  ياَ أَنَسُ هَاتِ التَّوْرَ. قاَلَ فَدَخَلُوْا حَتَّى امْتَلأَتِ الصُّفَّةُ وَالْحُجْرَةُ. فَقَالَ رَسُوْلُ الله  صلى الله عليه وسلم  لِيَتَحَلَّقْ عَشَرَةً عَشَرَةً وَلْيَأْكُلْ كُلُّ إِنْسَانٍ مِمَّا يَلِيْهِ. قَالَ فَأَكَلُوْا حَتَّى شَبِعُوْا. قَالَ فَخَرَجَتْ طَائِفَةٌ حَتَّى أَكَلُوْا كُلُّهُمْ. فَقَالَ لِيْ يَا أَنَسُ ارْفَعْ. قَالَ فَرَفَعْتُ فَمَا أَدْرِيْ حِيْنَ وَضَعْتُ كاَنَ أَكْثَرَ أَمْ حِيْنَ رَفَعْتُ. قَالَ وَجَلَسَ طَوَائِِفُ مِنْهُمْ يَتَحَدَّثُوْنَ فِيْ بَيْتِ رَسُوْلِ الله  صلى الله عليه وسلم  ورَسُوْلُ الله  صلى الله عليه وسلم  جَالِسٌ وَزَوْجَتُهُ مَوَلِّيَةٌ وَجْهَهَا إلى الْحَائِطِ…(رواه مسلم)

…Rasulullah menikah kemudian menggauli istrinya. (Anas) berkata: lalu ibuku, Ummu Sulaim membuat Hais (makanan yang terbuat dari kurma, tepung dan samin) kemudian meletakkannya dalam bejana kecil, kemudian beliau berkata: Hai Anas pergilah dengan membawa makanan ini kepada Rasulullah saw dan katakan  kepada beliau “Ibuku mengirimkan ini untuk engkau dan dia mengirim salam untukmu, dan berkata “ini ada sedikit dari kami wahai Rasulullah”.

(Anas berkata): Maka akupun pergi membawa makanan itu menuju Rasulullah saw kemudian aku berkata pada beliau: Sesungguhnya ibuku mengirimkman salam padamu dan berpesan : Ini ada sedikit dari kami wahai Rasulullah” kemudian Rasulullah bersabda: “letakkan” kemudian bersabda: ‘”pergilah, tolong undang untukku fulan, fulan, fulan, dan orang yang kau temui- beliau menyebut beberapa lelaki-.

(Anas berkata): Maka akupun mengundang orang yang dipesankan Rasulullah juga orang-orang yang kutemui. (Abu Usman-salah seoang perawi hadis- bertanya pada Anas): Berapa jumlah orang-orang? (Anas menjawab): Kira-kira sekitar tiga ratus orang. Rasulullah berkata padaku: Wahai Anas, bawa kemari bejana tadi”. Kemudian para tamu pun masuk, sampai suffah dan kamar menjadi penuh. Nabi bersabda:”Hendaknya semua membentuk lingkaran sepuluh-sepuluh dan setiap orang makan dari yang terdekat”.

(Anas berkata): Maka merekapun makan sampai mereka kenyang. (Anas berkata): Kemudian keluarlah sekelompok orang dan masuklah sekelompok yang lain, sampai mereka seluruhnya makan. Nabi bersabda padaku: “Wahai Anas kemasilah”. Maka akupun mengemasi  (sisa makanan itu) dan aku tidak tahu apakah makanan itu lebih banyak ketika kuletakkan ataukah ketika kukemasi. (Anas berkata): Beberapa kelompok dari mereka duduk bercakap-cakap di rumah Rasulullah sementara Rasulullah duduk dan istrinya memalingkan wajahnya ke arah tembok….

Dalam hadits di atas dijelaskan bahwa Nabi ketika menyelenggarakan Walimah disaat pernikahan beliau dengan Zainab, beliau menempatkan istri beliau pada posisi yang memungkinkan para tamu untuk melihatnya. Hal ini dibuktikan ucapan Anas yang berbunyi:

ورَسُوْلُ الله  صلى الله عليه وسلم  جَالِسٌ وَزَوْجَتُهُ مَوَلِّيَةٌ وَجْهَهَا إلى الْحَائِطِ…

yang menunjukkan bahwa Anas melihat beliau dalam keadaan memalingkan wajahnya ke dinding. Andaikan pemasangan tabir dalam kondisi ini wajib, niscaya Nabi akan melakukannya dan para sahabat tidak mungkin bisa melihat istri Nabi. Ketika istri Nabi dalam kondisi ini bisa dilihat, ini merupakan bukti bahwa memasang tabir bukan sebuah kewajiban pada jama’ah yang sudah terealisasi ( اِنْفِصَالٌ ) (keterpisahan).

Tidak bisa dikatakan, bahwa Anas dalam kondisi ini adalah berposisi sebagai pembantu setia Nabi yang tinggal bersama Nabi dan selalu melayani Nabi sehingga ia terkategori sebagai ( طَوَّافُوْنَ ) yang diizinkan melihat keluarga Nabi tanpa hijab sempurna dengan alasan bahwa para ( طَوَّافُوْنَ ) diperlakukan seperti Mahram. Karena itu apa yang dilihat Anas adalah apa yang beliau lihat sendiri bersama Nabi, bukan seluruh sahabatnya.  Tidak bisa dikatakan demikian. Sebab lafadz hadits menunjukkan bahwa para sahabat masuk ke dalam ( بَيْتٌ ) (rumah) Nabi,

…وَجَلَسَ طَوَائِِفُ مِنْهُمْ يَتَحَدَّثُوْنَ فِيْ بَيْتِ رَسُوْلِ الله  صلى الله عليه وسلم….

bukan tempat khusus yang disediakan oleh Nabi. Tidak ada keterangan pula bahwa dalam rumah itu dipasang tabir yang membuat ada dua macam tempat: tempat tamu dan tempat istri Nabi. Jadi, selama tidak ada keterangan yang menunjukkan bahwa istri Nabi ditempatkan di tempat khusus, maka hadits ini harus dipahami bahwa istri Nabi ditempatkan di dalam rumah secara umum yang memungkinkan para sahabat melihatnya, meski kondisinya istri Nabi menghadap dinding, bukan menghadap para tamu. Jadi, riwayat Anas ini tetap menunjukkan bahwa Nabi tidak memasang tabir untuk menghalangi pandangan sahabat terhadap istrinya sehingga bisa difahami bahwa memasang tabir yang membuat lelaki dan wanita tidak bisa saling melihat hukumnya tidak wajib.

Nash lain yang mendukung hal ini adalah riwayat pernikahan Abu Usaid, Imam Muslim meriwayatkan dari Sahl bin Sa’d  dia berkata:

دَعَا أَبُوْ أُسَيْدٍ السَّاعِدِيُّ رَسُوْلََ الله  صلى الله عليه وسلم  فِيْ عُرْسِهِ. فَكاَنَتْ امْرَأَتُهُ يَوْمَئِذٍ خَادِمَهُمْ وَهِيَ الْعَرُوْسُ. قَالَ سَهْلٌ تَدْرُوْنَ مَا سَقَتْ رَسُوْلَ الله  صلى الله عليه وسلم؟ أَنْقَعَتْ لَهُ تَمَرَاتٍ  مِنَ اللَّيٍلِ فِيْ تَوْرٍ. فَلَمَّا أَكَلَ سَقَتْهُ إِيَّاهُ.

Abu Usaid As-Sa’idi mengundang Rasulullah Saw dalam pesta pernikahannya. Istrinya pada hari itu menjadi pelayan mereka padahal ia mempelai. Sahl berkata: Tahukah kalian apa yang dihidangkan istri Abu Usaid sebagai minuman kepada Rasulullah? Ia merendam beberapa kurma di malam hari dalam sebuah bejana kecil, tatkala Rasulullah selesai makan ia menghidangkan minuman itu pada beliau.

Hadits ini menunjukkan bahwa mempelai wanita bukan saja bisa dilihat tamu laki-laki,tetapi lebih dari itu ia bahkan melayani para tamu. Karena itu, hadits ini menjadi dalil yang kuat yang menunjukkan bahwa pemasangan tabir untuk menghalangi pandangan laki-laki dengan wanita bukanlah hal yang diwajibkan.

Lebih dari itu fakta kehidupan di zaman Nabi juga menunjukkan bahwa pemisahan jama’ah wanita dengan jama’ah laki-laki tidak bermakna  kewajiban memasang tabir diantara keduanya. Nabi telah memisah shof laki-laki dengan shof wanita dalam sholat, akan tetapi beliau tidak sampai memasang tabir di antara keduanya. Nabi juga memisahkan kelompok wanita dengan laki-laki dalam ta’lim, tetapi beliau tidak memasang tabir di antara keduanya. Semua fakta ini menunjukkan bahwa pemasangan tabir tidak wajib hukumnya, sebab yang wajib adalah (اِنْفِصَالٌ) nya, bukan pemasangan tabirnya.

Lebih dari itu pernyataan wajibnya memasang tabir dalam jamuan Walimah sampai tamu laki-laki tidak bisa melihat wanita atau sebaliknya sama saja dengan mengatakan bahwa laki-laki haram melihat wanita dan wanita haram melihat laki-laki. Pernyataan ini jelas bertentangan dengan nash shohih dalam As-Sunnah yang menunjukkan bahwa laki-laki mubah melihat wanita dan juga sebaliknya selama tidak mengarah pada pandangan yang mengandung unsur (تَلَذُّذٌ) (berlezat-lezat).

Tidak bisa pula dikatakan bahwa kondisi Walimah adalah kondisi dimana kaum wanita umumnya melakukan Tabarruj (bersolek). Membiarkan para tamu bisa saling melihat berarti membiarkan peluang terjadinya kemaksiatan, sebab dalam kondisi ini sulit sekali bagi para lelaki untuk menahan pandangannya. Atas dasar ini memasang tabir antara tamu pria dan tamu wanita hukumnya wajib untuk menjaga terjadinya fitnah, yakni pandangan yang mengandung unsur (تَلَذُّذٌ)  . Tidak bisa dikatakan demikian. Sebab memasang tabir untuk memisah tamu laki-laki dan tamu wanita adalah hukum bagi penyelenggara Walimah dan ini membutuhkan dalil. Selama tidak ada dalil yang mewajibkannya maka memasang tabir juga tidak wajib. Adapaun Tabarruj, maka hal ini adalah sesuatu yang dilarang bagi wanita, bukan penyelenggara Walimah. Karena itu yang wajib adalah berhias secara wajar bagi wanita, bukan memasang tabir bagi penyelenggara Walimah. Andaikan ada seorang wanita cantik yang mampu membuat terfitnah semua laki-laki yang memandangnya, maka yang wajib adalah ( غَضُّ اْلبَصَرِ ) (menahan pandangan) bagi laki-laki, bukan keharusan memakai cadar bagi wanita tersebut.

Atas dasar ini, memasang tabir dalam jamuan Walimah untuk memisah tamu wanita dengan tamu laki-laki hukumnya tidak wajib, meski hal itu boleh-boleh saja dilakukan untuk menciptakan suasana yang lebih bersih dalam masyarakat Islam.

Sumber: Catatan Voice Of Islam

Leave a Reply