Cinta Dunia, Takut Mati

By 26 December 2010 Opini Mahasiswa No Comments

« يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا ». فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ « بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ ». فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ « حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ »

Hampir tiba dimana umat-umat saling memanggil untuk melawan kalian sebagaimana orang-orang saling memanggil untuk menyantap hidangannya. Salah seorang bertanya: apakah karena sedikitnya kami ketika itu? Rasul menjwab: bahkan kalian pada hari itu banyak akan tetapi kalian laksana buih dilautan dan sungguh Allah mencabut ketakutan dan kegentaran terhadap kalian dari dada musuh kalian dan Allah tanamkan di hati kalian al-wahn. Salah seorang bertanya: apakah al-wahn itu ya Rasulullah? Beliau menjawab: cinta dunia dan membenci kematian (HR Abu Dawud dan Ahmad).

Abu Dawud mengeluarkan hadis ini dari jalur Abdurrahman bin Ibrahim ad-Dimasyqi, dari Bisyr bin Bakr, dari Jabir dari Abu Abd as-Salam, dari Tsauban.

Imam Ahmad mengeluarkannya dari Abu an-Nadhr, dari al-Mubarak, dari Marzuq Abu Abdillah al-Himshi, dari Abu Asma’a ar-Rahabi, dari Tsauban mawla Rasulullah.

Hadis ini juga dikeluarkan oleh at-Thayalisi dalam Musnad-nya, Ibn Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya, Abu Nuaim dalam Al-Hilyah, ar-Ruwiyani dalam Musnad-nya, al-Baihaqi dalam Syu’ab al-خmân dan dalam Dalâ’il an-Nubuwwah, Ibn Asakir dalam Târîkh Dimasyqa dan Ibn Abi ad-Dunya dalam Al-‘Uqûbât.

Muhammad Syams al-Haq al-‘Azhim Abadzi Abu at-Thayib di dalam ‘Awn al-Ma’bûd Syarh Sunan Abû Dâwud menjelaskan: ‘an tadâ’â ‘alaykum maksudnya adalah mereka saling memanggil untuk memerangi kalian, menghancurkan kekuatan kalian dan merampas negeri dan harta yang kalian miliki.

Al-‘akalatu adalah dalam bentuk jamak dari âkil (orang yang makan). Jadi maknanya adalah sekelompok orang yang makan bersama. Lalu Ilâ qash’atihâ, al-Qari mengatakan maknanya, hidangan yang diambil tanpa penghalang dan pesaing sehingga mereka memakannya dengan tenang dan satu barisan. Demikian juga mereka mengambil apa yang ada di tangan kalian tanpa menderita kelelahan atau dharar yang mereka derita atau masalah yang menghalangi mereka. Ia mengatakan dalam Al-Majma’, maknanya yaitu: kelompok kekufuran dan umat-umat yang sesat akan saling memanggil untuk memerangi kalian yaitu sebagian akan memanggil sebagian yang lain guna berhimpun untuk memerangi kalian, menghancurkan kekuatan kalian dan menguasai negeri yang menjadi milik kalian. Hal itu seperti sekelompok orang yang saling memanggil satu sama lain untuk sama-sama menyantap hidangan yang mereka peroleh tanpa penghalang sehingga mereka memakannya dengan tenang tanpa kesusahan.

Petaka itu terjadi bukan karena sedikitnya jumlah kaum Muslim. Bahkan jumlah kaum Muslim banyak, namun laksana buih di lautan; banyak namun tidak berbobot, lemah dan tidak terjalin dalam ikatan yang kuat sehingga mudah diceraiberaikan; banyak namun keberaniannya minim dan kemampuannya lemah.

Karena kondisi kaum Muslim seperti itu, maka ketakutan dan kegentaran terhadap kaum Muslim pun tanggal dari dada musuh-musuh kaum Muslim, bahkan menumbuhkan keberanian musuh-musuh itu untuk menyerang kaum Muslim sekaligus merampas harta benda dan kekayaan bahkan negeri kaum Muslim.

Adapun al-wahn, menurut pengarang ‘Awn al-Ma’bûd, maknanya adalah adh-dha’f (kelemahan). Menurutnya dan ath-Thayibi, pertanyaan mâ al-wahn maksudnya adalah pertanyaan tentang apa al-wahn itu sendiri atau apa yang menyebabkan al-wahn itu. Jadi yang ditanyakan para Sahabat adalah apa yang menyebabkan kaum Muslim seperti itu. Kemudian Rasul menjelaskan bahwa sebabnya adalah cinta dunia dan benci kematian. Cinta dunia dan takut mati saling terkait. Siapa saja yang cinta dunia, dia akan enggan untuk berpisah dengannya dan melepaskan apa saja yang bersifat duniawi. Karena itu, dia akan membenci kematian, karena kematian artinya memisahkan dia dari apa yang ia cintai. Sebaliknya, siapa yang benci kematian, ia ingin bertahan selama mungkin di dunia, tidak ingin kehilangan apa yang dia miliki dan mengejar apa saja yang dia anggap menjauhkan dia dari kematian. Kebanyakan yang dikejar itu adalah harta dan tahta (kedudukan) karena dengan harta dan tahta itu dia menduga akan bisa “membeli” kehidupan. Cinta dunia dan takut kematian itu akan membuat orang menjauhi apa saja yang dia anggap mendekatkan pada kematian atau kesulitan. Dengan keduanya itu, seseorang akan enggan berbuat demi Islam, berdakwah, amar makruf nahi mungkar, mengoreksi penguasa, bersedekah, berinfak, berjihad dan berjuang demi kemuliaan Islam. Musuh-musuh Islam sangat paham akan rahasia kelemahan kaum Muslim ini. Karenanya, miliaran dolar mereka kerahkan untuk membuat kaum Muslim jadi sosok pecinta dunia, pemburu harta dan tahta, pencari kenikmatan jasmani; atau untuk menjauhkan kaum Muslim dari Islam dan perjuangan untuk islam. Ide sekularisme, hedonisme, kapitalisme, materialisme, naf’iyah dan sebagainya ditanamkan ke dalam benak dan disemai di hati kaum Muslim; selain dilakukan juga stigmatisasi dan monsterisasi Islam dan para pejuangnya.

Gambaran hadis ini sangat pas dengan potret kondisi kaum Muslim saat ini. Untuk menyelamatkannya, penyakit cinta dunia dan takut kematian itu harus ditanggalkan dan dieliminasi dari diri kaum Muslim. Ini menjadi tugas seluruh aktivis Islam dan terutama para ulama. Tentu saja pertama-tama penyakit cinta dunia dan takut kematian itu tidak selayaknya hinggap pada diri para aktivis dan para ulama. Na’ûdzu biLlâh min dzâlik. WaLlâh al-musta’ân wa ilayhi takilan. [Yahya Abdurrahman]

Leave a Reply