Siapa Mengundang Bencana?

By 21 December 2010 Opini Mahasiswa No Comments

Bencana yang terjadi di negeri ini secara bertubi-tubi dan datang tiba-tiba tentu membuat kita bertanya: gerangan apakah yang menyebabkan semuanya itu terjadi?

Secara ilmiah kita bisa saja menjelaskan, bahwa gempa ini terjadi karena pelepasan energi yang dihasilkan oleh tekanan yang berasal dari lempengan yang bergerak, yang makin lama makin tidak dapat ditahan lagi oleh pinggiran lempengan. Pada saat itulah gempa bumi akan terjadi. Meski demikian, tak seorang pun tahu kapan, di mana dan berapa besarnya, kecuali setelah terjadi. Karena itu, musibah pun tidak bisa dihindari.

Gempa berkuatan 7,9 Skala Richter (BMG Amerika) telah mengguncang Sumatera Barat, tanggal 30 September 2009 yang lalu. Ini merupakan gempa tektonik yang berasal dari pergeseran patahan Semangko, yang mengguncang Padang-Pariaman, Sumatera Barat. Akibatnya, sedikitnya 1.100 orang tewas dan ribuan terperangkap dalam reruntuhan bangunan. Sebelumnya, 2 September 2009, Gempa Tektonik 7,3 Skala Richter juga telah mengguncang Tasikmalaya, Jawa Barat. Gempa ini terasa hingga Jakarta dan Bali, serta berpotensi tsunami. Korban jiwa hingga kini pun masih belum diketahui pasti, karena terjadi tanah longsor hingga evakuasi korban pun sulit dilakukan. Sebelumnya, 12 September 2007, Gempa mengguncang Bengkulu dengan kekuatan gempa 7,9 Skala Richter. Sebelumnya lagi, 27 Mei 2006, Gempa bumi tektonik kuat juga mengguncang Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah kurang lebih pukul 05.55 WIB selama 57 detik. Menurut BMG, Gempa bumi tersebut berkekuatan 5,9 Skala Richter, namun United States Geological Survey melaporkan 6,2 Skala Richter. Akibatnya, lebih dari 6.000 orang tewas, dan lebih dari 300.000 keluarga kehilangan tempat tinggal. Sebelumnya lagi, 26 Desember 2004, gempa bumi dahsyat berkekuatan 9,0 Skala Richter mengguncang Aceh dan Sumatera Utara sekaligus menimbulkan gelombang tsunami di Samudera Hindia. Bencana alam ini telah merenggut lebih dari 220.000 jiwa.

Rentetan gempa demi gempa pun menimpa negeri ini, seolah tak mau berhenti. Bahkan BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) telah mencatat, sejak 3 September sampai 13 Oktober 2009 sebanyak 60 gempa telah terjadi di Indonesia. Allahu akbar!

Memang, kita bisa saja menjelaskan landasan ilmiah dari berbagai peristiwa tadi, tetapi justru karena itu kita sering melupakan Allah SWT. Padahal kita sudah sering kecolongan. Kita lupa atau bahkan melupakan firman Allah SWT:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الأرْضِ وَلا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada diri kalian sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah (QS al-Hadid [57]: 22).

Karena itu, nyaris umat Islam tidak pernah merasa bersalah, apalagi berdosa atas setiap musibah yang menimpanya. Padahal boleh jadi musibah itu justru ditimpakan oleh Allah SWT kepada mereka, lantaran dosa dan kemaksiatan mereka kepada-Nya. Allah SWT mengingatkan:

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ

Hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan oleh Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Berhati-hatilah kamu terhadap mereka supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah Allah turunkan kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah berkehendak menimpakan musibah kepada mereka akibat sebagian dosa-dosa mereka. Sesungguhnya kebanyakan manusia itu fasik (QS al-Maidah [5]: 49).

Dengan merenungkan ayat di atas, masihkah kita sangsi, bahwa dosa umat Islam karena tidak berhukum pada hukum Allah itulah yang sesungguhnya mengundang musibah? Masihkah kita ragu, bahwa penguasa yang mendapatkan mandat, dan rakyat sebagai pemberi mandat, yang sama-sama tidak mau menjalankan hukum Allah, itulah sesungguhnya yang mengundang musibah? Mahabenar Allah dengan segala firman-Nya:

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

Tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, hingga jika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami menimpakan azab kepada mereka dengan tiba-tiba. Saat itu pun mereka terdiam dan berputus asa (QS al-An’am [6]: 44).

Karena itu, musibah demi musibah ini seharusnya menyadarkan seluruh rakyat dan penguasa negeri ini, agar segera bertobat dan segera menghentikan kemaksiatannya. Setelah itu, semestinya mereka segera meminta ampunan dan rahmat Allah SWT. Sebab, hanya ampunan dan rahmat-Nyalah yang bisa menyelamatkan kita semua. Tidak hanya berhenti di situ, tetapi diikuti dengan memperbanyak taqarrub kepada-Nya, dengan meningkatkan ketaatan, dengan cara melaksanakan seluruh perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Dengan kata lain, hanya dengan syariah dan Khilafahlah, negeri zamrud katulistiwa ini akan mendapatkan berkah, serta dijauhkan dari bala’ dan musibah. Mahabenar Allah dengan segala firman-Nya:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu. Karena itu, Kami menyiksa mereka disebabkan apa yang mereka perbuat (QS al-A’raf [7]: 96).

Allahumma qad ballaghtu, fasyhad innaka ma tasya’ qadîr. Amin. [Arief B]

Leave a Reply