Iman dan Istiqamah

By 20 December 2010 Opini Mahasiswa No Comments

عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللهِِ الثَّقَفِىِّ قَالَ:قُلْتُ: يَارَسُولَ اللهِ، قُلْ لِى فِى الإِسْلاَمِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بعدك. قَالَ: قُلْ آمَنْتُ بِالله ثُمَّ اسْتَقِمْ

Dari Sufyan bin Abdillah ats-Tsaqafi, ia berkata: Aku berkata, “Ya Rasulullah, katakan kepadaku di dalam Islam satu ucapan yang aku tidak perlu bertanya tentangnya kepada seorang pun setelahmu.” Beliau bersabda, “Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah,’ kemudian beristiqamahlah!” (HR Ahmad dan Muslim).

Imam Ahmad mengeluarkan hadis ini dari Waki’ dan Abu Mu’awiyah. Imam Muslim mengeluarkannya dari Abu Bakar ibn Abi Syaibah dan Abu Kuraib, dari Ibn Numair; dari Qutaibah bin Said dan Ishaq bin Ibrahim, dari Jarir; dan dari Abu Kuraib, dari Abu Usamah. Kelimanya (Waki’, Abu Mu’awiyah, Jarir, Abdullah bin Numair dan Abu Usamah) dari Hisyam bin Urwah dari Urwah, dari Sufyan bin Abdullah ats-Tsaqafi.

Hadis di atas juga diriwayatkan dengan lafal lain yang lebih panjang dari Sufyan bin Abdullah ats-Tsaqafi, ia berkata:

يَا رَسُولَ اللهِ حَدِّثْنِى بِأَمْرٍ أَعْتَصِمُ بِهِ. قَالَ قُلْ رَبِّىَ اللهُ ثُمَّ اسْتَقِمْ. قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ مَا أَخْوَفُ مَا تَخَافُ عَلَىَّ فَأَخَذَ بِلِسَانِ نَفْسِهِ ثُمَّ قَالَ هَذَا

“Ya Rasulullah, katakan kepadaku satu perkara yang aku jadikan pegangan dan berlindung.” Beliau menjawab, “Katakan, ‘Tuhanku Allah,’ kemudian beristiqamahlah.” Aku (Sufyan bin Abdullah ats-Tsaqafi) berkata, “Ya Rasulullah, apa yang paling Engkau takutkan terhadapku?” Beliau memegang lidah Beliau sendiri, kemudian bersabda, “Ini” (HR Ahmad, an-Nasai, Ibn Majah, at-Tirmidzi dan ad-Darimi)

Imam at-Tirmidzi berkata, “Ini adalah hadis hasan sahih, diriwayatkan dari satu jalur lebih dari Sufyan bin Abdullah ats-Tsaqafi.”

Hadis ini juga diriwayatkan oleh al-Hakim dalam Al-Mustadrak, al-Baihaqi dalam Su’âb al-خmân, Ibn Hibban dalam Shahîh Ibn Hibbân dimana Suaib al-Arnauth berkomentar, “Hadis ini sahih menurut syarat Muslim. Diriwayatkan pula oleh ath-Thayalisi dalam Musnad-nya, Abdur Razaq dalam Mushannaf, Ibn Abi Syaibah dalam Musnad-nya; Ibn Baththah dalam al-Ibânah al-Kubrâ dan ath-Thabarani di Mu’jam al-Kabîr.

Hadis ini termasuk pokok agama sehingga Imam an-Nawawi memasukkannya dalam al-Arba’ûn li an-Nawawiyah hadis ke-21.

Imam an-Nawawi di dalam Syarh Shahîh Muslim menjelaskan maksud permintaan Sufyan itu adalah, “Beritahukan kepadaku satu ucapan yang menyeluruh, yang menghimpun makna-makna Islam secara jelas dimana aku tidak memerlukan penafsiran dari selain Anda; yang aku kerjakan dan aku jadikan perisai.”

Menurut Ibn Rajab al-Hanbali di dalam Jâmi’ al-‘Ulûm wa al-Hikâm, itu merupakan permintaan dari Sufyan bin Abdullah agar Rasul memberitahunya satu perkataan yang bersifat menyeluruh untuk urusan Islam dan mencukupi sehingga setelah Rasul, ia tidak memerlukan kepada yang lain.

Qadhi Iyadh menjelaskan, “Hadis ini termasuk penghimpun ucapan Rasul saw. dan ini sesuai dengan firman Allah (yang artinya): Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan “Tuhan kami ialah Allah,” kemudian mereka tetap istiqamah (TQS Fushshilat: 30; al-Ahqaf: 13). Artinya, esakan (tauhidkan) Allah dan berimanlah kepada-Nya, kemudian beristiqamahlah dan jangan melenceng dari tauhid serta taatlah kepada-Nya hingga kalian diwafatkan. Berdasarkan apa yang kami sebutkan inilah penafsiran para mufassir dari kalangan para Sahabat dan orang sesudah mereka dan itulah makna hadis ini, insyaAllah.”

Imam an-Nawawi di dalam Syarh al-Arba’ûn li an-Nawawiyah menjelaskan bahwa di dalam dua kata ini Rasul saw. menghimpun untuk penanya makna Islam dan iman seluruhnya. Beliau memerintahkannya untuk memperbarui keimanannya dengan lisannya dan mengingatnya dengan hatinya. Beliau juga memerintahkannya untuk istiqamah atas amal-amal ketaatan dan berhenti dari semua bentuk pelanggaran. Sebab, keistiqamahan tidak akan ada seiring dengan suatu kebengkokan. Sesungguhnya kebengkokan adalah lawan dari keistiqamahan.

Al-Minawi di dalam Faydh al-Qadîr menjelaskan bahwa maksud sabda Rasul itu adalah “perbarui keimananmu kepada Allah dalam bentuk ingatan dengan hatimu dan ucapan dengan lisanmu dengan menghadirkan semua makna keimanan yang syar’i, kemudian beristiqamahlah, yaitu pegangilah amal ketaatan dan berhenti dari semua bentuk penyimpangan karena keistiqamahan tidak akan datang seiring dengan suatu kebengkokan karena kebengkokan itu adalah lawannya.”

Para ulama menjelaskan bahwa dua kalimat pendek pesan Rasul saw. ini, menghimpun seluruh makna iman dan Islam dalam bentuk keyakinan, ucapan dan perbuatan. Sebab, Islam itu: Pertama, adalah tauhid dan itu dicakup oleh kalimat pertama, yaitu, “Katakan, ‘Aku beriman kepada Allah,” atau “Katakan, “Tuhanku adalah Allah.” Tauhid yang dituntut itu adalah tauhid yang sempurna, yaitu mengesakan Allah sebagai rabb dan sebagai ilâh yang layak disembah; mengesakan-Nya dalam asma wa shifat; dan mengesakan-Nya secara al-hâkimiyah sebagai satu-satunya yang berhak membuat hukum dan yang ditaati secara mutlak. Kedua, adalah ketaatan dengan segala bentuknya, dan ini dicakup oleh kalimat kedua, “Kemudian beristiqamahlah,” karena istiqamah adalah memenuhi semua yang diperintahkan dan menjauhi semua yang dilarang.

Hadis ini mengisyaratkan bahwa keistiqamahan itu pangkalnya adalah tauhid atau keimanan. Keistiqamahan yang hakiki hanya bisa dibangun di atas pondasi keistiqamahan hati, di atas keimanan dan tauhid. Jika keistiqamahan hati di atas tauhid dan keimanan itu terwujud maka keistiqamahan jawârih (anggota tubuh) pun akan bisa diwujudkan. Satu anggota tubuh yang harus paling dijaga untuk mewujudkan keistiqamahan anggota tubuh secara keseluruhan adalah lisan. Sebab, lisan adalah penerjemah hati dan yang mengungkapkan apa yang ada di dalam hati. Rasul menegaskan di dalam sabdanya yang lain:

لاَ يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ وَلاَ يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ

Tidaklah lurus keimanan seorang hamba sehingga lurus hatinya dan tidaklah lurus hatinya sehingga lurus lisannya (HR Ahmad dari Anas dan al-Baihaqi dari al-Hasan).

Allâhumma anta Rabbunâ farzuqnâ al-istiqâmah. [Yahya Abdurrahman]

Leave a Reply