‘Matematika Sedekah’

By 16 December 2010 Opini Mahasiswa No Comments

Seorang ustadz muda dengan penuh semangat berceramah di hadapan ratusan jamaahnya membahas ihwal sedekah. Dengan gaya khasnya, ia meyakinkan jamaahnya tentang pentingnya bersedekah. Sampai di sini tentu tak ada yang istimewa.

Namun, yang menarik, untuk meyakinkan jamaahnya tentang keutamaan sedekah, ustadz muda ini menggunakan hitung-hitungan matematis, dengan benar-benar menuliskan di papan tulis hitung-hitungan ’balasan’ sedekah. Disebutkan, misalnya, jika kita bersedekah 100 ribu rupiah, maka Allah akan membalasnya minimal 10 kali lipat sehingga akan menjadi 1 juta rupiah. Bahkan, seraya mengutip sebuah ayat al-Quran, Allah boleh jadi akan menggantinya lebih dari itu. Demikian seterusnya ustadz muda itu menjelaskan, dengan sejumlah contoh, secara panjang lebar. Tak lupa, pengajian pagi itu menyuguhkan testimoni beberapa jamaah yang telah ’merasakan’ betulnya hitung-hitungan balasan sedekah sesuai dengan apa yang mereka alami. Jadilah dalam pengajian pagi itu jamaah benar-benar disuguhi materi tentang ’matematika sedekah’.

Lepas dari motif apapun orang bersedekah—entah benar-benar ikhlas tanpa pernah berpikir akan balasan-balasan yang bersifat ’duniawi’, atau karena memang berharap ada balasan ’real dan langsung’ sesuai dengan logika ’matematika sedekah’ tadi, atau karena memang ada hajat tertentu (seperti ingin segera dapat jodoh, ingin segera punya momongan, ingin segera naik pangkat, ingin segera sembuh dari suatu penyakit, ingin sukses memenangkan order/proyek, ingin maju dalam bisnis, dll)—tentu benar bahwa Allah SWT akan membalas amal sedekah kita berlipat ganda (Lihat, misalnya, QS al-Baqarah [2]: 261). Demikian pula yang dijelaskan oleh Baginda Nabi saw. dalam banyak hadisnya.

Lalu salahkah jika kita bersedekah dengan berharap balasan berlipat ganda sebagaimana yang telah Allah SWT janjikan? Tentu tidak. Namun, jika bersedekah sebatas itu, biasanya: Pertama, sedekah yang dikeluarkan hanyalah sebatas untuk mendapatkan ’balasan’ yang kita inginkan. Kedua, tak selalu Allah membalas sedekah kita dengan balasan yang bersifat duniawi sesuai dengan logika ’matematika sedekah’ di atas, karena boleh jadi balasannya dalam bentuk lain yang tidak kita ketahui (Lihat: Al-Haitsami Majma’ az-Zawa’id, V/282). Ketiga, pada saat Allah SWT memberikan balasan tak sesuai dengan logika ’matematika sedekah’ di atas, sangat mungkin kita akan kecewa.

Jadi, mesti bagaimana? Marilah kita simak keteladanan Rasulullah saw. dan para Sahabatnya dalam bersedekah dan berinfak fi sabilillah di bawah ini.

*****
Suatu ketika, Baginda Nabi Muhammad saw. mendapat hadiah harta dari kaum Fadak yang dibawa oleh empat ekor unta. Sebagian harta itu kemudian beliau gunakan untuk bayar utang yang sudah jatuh tempo. Bilal segera beliau tugasi untuk membayarkan utang tersebut, sementara beliau menunggu di masjid.

Setelah seluruh utang itu dibayar, Bilal segera kembali menemui beliau. Baginda Nabi saw. kemudian bertanya, “Masih adakah harta yang tersisa?”

“Ya, masih ada sedikit,” jawab Bilal.

Beliau lalu memerintahkan, “Bagikanlah harta itu sampai habis hingga aku bisa merasa tenang. Aku tidak akan pulang ke rumah sebelum harta itu dibagikan semuanya.”

Bilal pun pergi untuk membagi-bagikan harta yang tersisa kepada fakir miskin. Selepas shalat isya, Baginda Nabi saw. bertanya lagi, “Masih adakah harta yang tersisa?”

“Masih, karena belum ada lagi orang yang memerlukannya,” kata Bilal.

Baginda Nabi saw. kembali tidur di masjid. Keesokan harinya, beliau bertanya lagi dengan pertanyaan yang sama. Lalu dijawab oleh Bilal, “Tidak ada, ya Rasulullah. Allah telah memberkati Anda dengan ketenteraman jiwa. Semua harta itu telah habis dibagikan.” (Al-Kandahlawi, Fadhâ’il al-A‘mâl, hlm. 576).

Bagaimana dengan Abu Bakar ra.? Semua tahu, Abu Bakar ra. adalah salah seorang Sahabat yang paling banyak berkorban harta untuk kepentingan dakwah dan jihad fi sabilillah. Sejak berhijrah bersama Rasulullah saw., sebagaimana diceritakan oleh Ibn Ishak, dari penuturan Asma ra., Abu Bakar membawa seluruh hartanya sebanyak 6 ribu dirham, tentu untuk keperluan perjuangan Islam.

Tengok pula Utsman bin Affan ra. yang juga terkenal karena pengorbanan hartanya. Dalam Perang Tabuk beliau pernah menyumbangkan 100 ekor unta dengan perlengkapannya (HR Ahmad). Bahkan menurut al-Baihaqi, itu ia lakukan sampai tiga kali sehingga total 300 unta beserta perlengkapannya (Lihat juga: Abu Nu’aim, Al-Hilyah, I/59).

Dalam kesempatan lain, Utsman bin Affan pernah menyumbang 10 ribu dinar untuk membantu Pasukan al-Usrah. Jumlah itu setara dengan Rp 14,2 miliar ( 1 dinar = 1.420.000,-, Antam, 20/07/10). Di luar itu, Utsman ra. pernah menyedekahkan lagi 1000 dinar untuk biaya Perang ‘al-Usrah (HR al-Hakim) dan 700 uqyah emas (HR Abu Ya’la), juga 950 ekor unta dan 50 ekor kuda untuk Perang Tabuk (HR Ibn Asakir).

Tak kalah dengan Utsman ra., Abdurrahman bin Auf pernah menjual tanahnya seharga 40 ribu dinar (kira-kira Rp 56,8 miliar). Seluruh hasil penjualan tanah itu ia bagi-bagikan kepada fakir-miskin, termasuk kepada para istri Nabi saw. (HR al-Hakim). Beliau pun pernah membebaskan sebanyak 30 ribu budak wanita (HR Abu Nu’aim).

Pernah suatu saat Abdurrahman bin Auf datang ke Madinah sepulang berdagang dari Syam dengan membawa 700 ekor unta beserta barang-barang hasil dagangannya. Kabar tersebut sampai kepada Baginda Nabi saw. Beliau lalu bersabda, “Aku melihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dalam keadaan merangkak.” Sabda Rasul ini sampai ke telinga Abddurahman bin Auf. Ia lalu berkata, “Andai saja aku bisa masuk surga dengan cara berjalan.” Seketika, tanpa pikir panjang, ia segera menyedekahkan seluruh unta dan barang-barang hasil dagangannya itu yang baru saja tiba di Madinah (HR Ahmad).

Demikianlah fenomena sedekah Baginda Nabi saw. dan para Sahabat yang mulia di atas. Mereka bersedekah seperti orang yang tak pernah takut miskin. Sebaliknya, mereka jor-joran bersedekah justru karena takut banyaknya harta malah menjadi beban di akhirat. Mereka tak sempat lagi memikirkan tentang balasan yang bakal Allah berikan, apalagi sekadar balasan duniawi berdasarkan ‘matematika sedekah’.

Wa mâ tawfîqî illâ billâh wa ’alayhi tawakkaltu wa ilayhi unîb. [Arief.B]

Leave a Reply