Khalifah Umar Bin Abdul Aziz

By 15 December 2010 Opini Mahasiswa No Comments

Amar bin Abdul Aziz lahir pada tahun 63 H. Nama lengkapnya adalah Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin al-Hakam bin al-Ash bin Umayyah bin Abdi Syams. Ibunya adalah Ummu Ashim binti Ashim bin Umar al-Khaththab (yang dikenal dengan julukan Abu Hafhs). Diriwayatkan bahwa ketika Abdul Aziz bin Marwan hendak menikahi Ummu Umar bin Abdil Aziz, ia (Abdul Aziz) berkata kepada pengasuhnya, “Kumpulkanlah untukku empat ratus dinar dari hartaku yang paling bersih, karena aku akan menikahi keluarga yang baik.”

Lalu ia pun menikahi Ummu Umar bin Abdil Aziz. Namanya adalah Ummu Ashim binti Ashim bin Umar bin al-Khaththab. Ashim adalah putra Umar bin al-Khaththab yang menikah dengan seorang pemudi yang menolak menambahkan air pada susu perasan ketika diperintahkan oleh ibunya. Saat itu ia berkata kepada Ibunya, “Jika Umar tidak melihat kita maka Allah pasti melihat kita.”

Hal itu kemudian didengar oleh Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. Lalu beliau memerintahkan salah seorang anaknya, Ashim, untuk menikahi pemudi itu karena sifat amanah yang dia miliki.

Menjadi Khalifah

Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi khalifah pada tahun 99 H, pada hari wafatnya Khalifah Sulaiman bin Abdil Malik. Khalifah Sulaiman telah mewasiatkan Kekhilafahan kepada Umar ketika ia ditimpa sakit demam. Khalifah Sulaiman tidak menemukan orang lain sebagai calon khalifah kecuali Umar bin Abdul Aziz.

Saat Sulaiman wafat dan sudah dikafani, ia dishalatkan dengan diimami oleh Umar. Saat penguburan jenazahnya telah selesai, dibawalah ke hadapan Umar bin Abdil Aziz beberapa tunggangan khas Khilafah, yakni unta dan kuda. Umar berkata, “Apa ini?” Orang-orang menjawab, “Ini adalah kendaraan Khalifah.” Umar berkata, “Jauhkan kendaraan itu dariku. Aku tidak membutuhkannya. Kemarikanlah keledaiku.” Beliau pun menaikinya dan pulang ke rumah dalam keadaan bingung.

Pelayannya berkata, “Tampaknya Anda sedang bingung. Ada apa gerangan?” Umar menjawab, “Aku bingung karena urusan seperti ini (maksudnya Kekhilafahan). Sungguh tidak ada satu umat Muhammad pun di timur dan barat kecuali ia memiliki hak yang wajib aku tunaikan, tanpa harus menunggu ia menyuratiku atau menuntutnya dariku.”

Khutbah Setelah Pengangkatan Sebagai Khalifah

Khulafaur Rasyidin kelima ini masuk masjid, kemudian naik mimbar dan berkata, “Saudara-saudara, aku telah diuji untuk memegang tugas ini tanpa diminta pandangan terlebih dulu, juga bukan karena permintaanku serta tidak dibincangkan bersama dengan umat Islam. Sekarang aku membatalkan baiat yang kalian berikan kepadaku dan pilihlah seorang khalifah yang kalian sukai.”

Namun, orang-orang serentak berkata, “Kami telah memilihmu, wahai Amirul Mukminin, dan kami ridha kepadamu. Karena itu, uruslah urusan kami dengan kebaikan dan keberkahan.”

Khalifah Umar bin Abdul Aziz menyampaikan pujian sanjungan kepada Allah dan membacakan shalawat kepada Nabi saw., lalu berkata, “Aku berwasiat kepada Anda semua untuk bertakwa kepada Allah, karena takwa kepada Allah adalah pengganti segala perkara, dan tidak bisa diganti dengan apapun. Beramallah untuk akhirat karena siapa saja yang beramal untuk akhiratnya maka Allah pasti mencukupi dunianya. Bereskanlah keadaan kalian ketika tidak ada siapa-siapa, niscaya Allah akan membereskan keadaan kalian ketika bersama orang banyak. Ingatlah kematian dan bersiap-siaplah dengan baik (untuk menyambut kematian) sebelum kematian itu benar-benar datang, karena kematian akan menghancurkan segala kenikmatan. Sungguh umat ini tidak akan berselisih karena Rabb-nya,tidak karena Nabi-Nya dan tidak karena Kitab-Nya. Mereka hanya akan berselisih karena dinar dan dirham (harta). Sungguh, demi Allah, aku tidak akan memberikan kebatilan kepada siapapun; aku tidak akan menghalangi kebenaran dari siapapun.”

Lalu beliau meninggikan suaranya, “Saudara-saudara, siapa saja yang taat kepada Allah wajib ditaati. Siapa saja yang maksiat kepada Allah tidak boleh ditaati. Karena itu, taatilah aku selama aku taat kepada Allah. Jika aku maksiat kepada Allah, Anda semua tidak wajib taat kepadaku.”

Kemudian Khalifah Umar masuk ke Istana. Ia memerintahkan agar semua hiasan Istana ditanggalkan. Baju-baju kebesaran Khalifah ia jual dan hasil penjualannya dimasukkan ke Baitul Mal. Ia memerintahkan agar diumumkan kepada khalayak: Siapa saja yang telah dizalimi hendaklah melaporkannya. Umar tidak membiarkan sedikitpun kekayaan yang ada pada kekuasaan Sulaiman dan apa yang ada di tangan orang-orang yang zalim kecuali ia kembalikan kepada pihak-pihak yang terzalimi. Masyarakat pun merasa senang dengan kepemimpinannya.

Diceritakan bahwa ketika Khalifah Umar bin Abdul Aziz selesai berpidato, ia masuk ke dalam rumah untuk beristirahat tidur siang sebentar. Tiba-tiba datanglah putranya, Abdul Malik. Ia bertanya-tanya keheranan, “Amirul Mukminin, apa yang akan Anda lakukan?” Khalifah Umar berkata, “Anakku, Ayah ingin beristirahat tidur siang sebentar.” Abdul Malik berkata, “Apakah Ayah akan tidur, sementara Ayah belum mengembalikan hak-hak orang-orang yang terzalimi?” Khalifah Umar kembali berkata, “Anakku, tadi malam ayah tidak tidur di rumah pamanmu, Sulaiman. Sebentar lagi, jika Ayah sudah shalat zuhur, ayah akan mengembalikan hak-hak orang yang terzalimi.” Sang anak berkata, “Amirul Mukminin, apakah Anda bisa menjamin bahwa Anda bisa hidup sampai waktu zuhur?” Khalifah Umar bin Abdul Aziz pun berkata, “Mendekatlah, anakku sayang.” Abdul Malik pun mendekat. Kemudian Khalifah Umar memeluknya dan mencium keningnya seraya berkata, “Segala pujian hanya milik Allah yang telah mengeluarkan dari tulang rusukku keturunan yang menjadi penolongku dalam menjalankan agama.”

Pemimpin yang Adil

Ali bin Husain berkata, “Khulafa al-Mahdiyyin ada tujuh orang; 5 orang telah berlalu dan tersisa dua orang lagi. Mereka adalah: Abu Bakar, Umar bin al-Khaththab, Ustman, Ali dan Umar bin Abdul Aziz.”

Ahmad bin Hanbal berkata, “Allah akan membangunkan bagi manusia pada setiap seratus tahun orang yang memperbaiki agama bagi umat ini. Kami melihat pada seratus tahun pertama ada Umar bin Abdul Aziz. Pada seratus tahun kedua ada Imam Syafii.”

Khalifah Umar bin Abdil Aziz adalah seorang pemimpin yang adil. Masyarakat pun merasakan keadilan ini. Umar pernah berkata kepada rakyatnya, “Pulanglah ke negeri kalian. Aku bisa melupakan kalian di sini. Sungguh aku telah mengangkat para kepala daerah untuk kalian. Aku tidak mengatakan bahwa mereka adalah yang terbaik. Siapa saja yang dizalimi oleh kepala daerahku maka aku tidak akan mengizinkannya kecuali aku melihat kezalimannya. Demi Allah, jika aku dan keluargaku menghalangi harta ini, kemudian aku menghalanginya dari kalian, maka sungguh aku pasti termasuk orang yang kikir. Demi Allah, andai saja aku tidak hidup sesuai dengan Sunnah dan tidak menjalankan kebenaran, maka pasti aku mencintai keluhuran (aku akan bermegah-megahan).”

Khalifah Umar bin Abdil Aziz pernah mengirim para amil untuk mengajarkan agama kepada masyarakat pedalaman dan membagikan harta. Rabbah bin Hibban, amil di Madinah, berkata, “Tidak datang surat-surat kepada kami dari Umar kecuali untuk menghidupkan Sunnah, membagikan harta atau perkara yang baik. Beliau selalu menanyakan tentang keadaan semua kaum Muslim. Suatu hari datanglah sekelompok orang dari Madinah. Khalifah Umar bertanya kepada mereka, ‘Apa yang dilakukan oleh orang-orang miskin yang tinggal di daerah ini…, ini…’ Mereka berkata, ‘Amirul Mukminin, mereka telah dikayakan oleh Allah karena harta yang engkau berikan dari Baitul Mal.’”

Diceritakan ada sekelompok orang yang naik haji mengirim surat kepada Khalifah Umar agar Ia memerintahkan pegawainya untuk menutupi Baitul Haram sebagaimana dilakukan oleh pemimpin sebelumnya. Khalifah Umar lalu menulis surat jawaban kepada mereka, “Aku memandang lebih baik biaya untuk itu (menutupi Ka’bah) aku berikan untuk menutupi perut-perut yang lapar.”

Khalifah Umar selalu mengirim harta negara untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang miskin. Namun, harta tersebut dikembalikan lagi karena tidak ada yang mau menerimanya (karena sudah kaya). Khalifah Umar benar-benar telah menjadikan semua rakyatnya kaya. Pada masanya, pada cetakan uang pecahan terdapat tulisan: Amarallahu bil wafa wal ‘adl (Allah telah memerintahkan untuk menunaikan amanah dan berbuat adil).

Ibadahnya

Khalifah Umar bin Abdul Aziz memiliki sebuah peti yang berisi baju yang terbuat dari bulu dan rantai. Ia memiliki kamar khusus untuk shalat yang tidak dimasuki oleh orang lain. Jika telah datang waktu malam, ia membuka petinya dan memakai baju serta meletakan belenggu di lehernya. Ia terus-menerus bermunajat kepada Rabb-nya dan menangis hingga terbit fajar. Khalifah Umar biasa meningkatkan kesungguhannya setelah waktu isya paling akhir sebelum witir. Jika telah witir ia tidak berbicara dengan siapapun. Ia selalu berpuasa Senin-Kamis, sepuluh pertama bulan Dzulhijjah, Hari Asyura dan Hari Arafah. Ia selalu membaca mushaf al-Quran setiap hari.

Menangis dan Takut kepada Allah SWT

Suatu hari ada seorang lelaki bernama Ibnu al-Ahtam menemui Umar bin Abdul Aziz. Ia terus-menerus menasihatinya hingga Umar pun jatuh pingsan. Jika beliau membaca al-Quran, beliau pasti menangis. Diriwayatkan bahwa suatu hari Umar menangis dan bersamanya ada Fathimah. Lalu menangis pula penghuni rumah. Masing-masing dari mereka tidak mengetahui mengapa yang lain menangis. Kemudian Fathimah bertanya, “Amirul Mukminin, mengapa engkau menangis?” Beliau menjawab, Fathimah, aku teringat akan perginya manusia kelak pada Hari Kiamat di hadapan Allah. Segolongan pergi ke surga dan segolongan lagi ke neraka.” Kemudian Umar berteriak dan pingsan.

Setiap malam Khalifah Umar selalu mengumpulkan para fukaha. Mereka lalu mengingatkan akan kematian dan Hari Kiamat. Kemudian mereka menangis, seolah-olah di antara mereka ada jenazah. Jika Umar ingat mati maka ia akan bergetar seperti menggigilnya burung yang kedinginan. Ia menangis hingga air matanya berlinang membasahi janggutnya.

Wasiatnya kepada Anak-anaknya

Saat Umar bin Abdil Aziz akan wafat, datanglah sepupu dan mertuanya, Maslamah bin Abdil Malik. Ia berkata, “Amirul Mukminin, sungguh engkau telah memutuskan mulut anakmu dari harta ini. Engkau telah meninggalkan mereka dalam keadaan miskin. Karena itu, harus ada sesuatu yang bisa memperbaiki kehidupan mereka. Jika engkau berwasiat untuk mereka kepadaku atau kepada keluargamu, niscaya aku akan menjamin biaya mereka, insya Allah.” Umar berkata, “Dudukkanlah aku.” Mereka pun mendudukkan beliau. Khalifah Umar lalu berkata, “Segala pujian hanya milik Allah. Apakah karena Allah Anda menakut-nakutiku, wahai Maslamah. Adapun yang engkau katakan bahwa aku telah menghalangi mulut anak-anakku dari harta dan aku telah meninggalkan mereka dalam keadaan miskin, maka sungguh aku tidak menghalangi hak mereka dan aku tidak memberikan kepada mereka sesuatu yang bukan haknya. Adapun permintaanmu agar aku berwasiat kepadamu atau keluargaku maka wasiatku untuk keluargaku adalah Allah yang telah menurunkan al-Quran. Dialah yang akan mengasihi orang-orang yang salih. Keturunan Umar hanyalah dua golongan. Pertama, yang bertakwa kepada Allah. Kepada mereka Allah akan memberikan kemudahan dalam segala urusan dan akan memberi mereka rezeki dari yang tidak terduga. Kedua, yang terbenam dalam kemaksiatan. Aku tidak akan menjadi orang pertama yang mendukung mereka dengan harta untuk maksiat kepada Allah.”

Kemudian Umar minta agar anak-anaknya dipanggil. Lalu datanglah sekitar sepuluh orang anak laki-laki. Beliau kemudian mulai memberikan nasihat, “Anak-anakku, Ayah cenderung pada salah satu di antara dua, yaitu: kalian menjadi orang kaya dan Ayah kalian masuk neraka atau kalian menjadi fakir dan Ayah kalian masuk surga. Jika kalian fakir dan Ayah masuk surga, itu lebih Ayah cintai daripada kalian kaya sementara Ayah masuk neraka…” []

Leave a Reply