Mengabadikan Spirit Ramadhan

By 22 September 2010 Opini Mahasiswa No Comments

Tak mengenal lelah untuk beribadah. Itulah salah satu kenangan bulan Ramadhan yang terekam dalam ingatan kita. Bayangkan, selepas bulan puasa ketika perut masih penuh sesak dengan makanan, kita dipanggil Allah untuk melaksanakan ibadah sholat isya berjamaah dan sholat tarawih. Namun di tengah kelelahan kita masih mampu melaksanakannya bahkan dengan sempurna. Begitu tinggi spirit bulan Ramadhan tertanam dalam jiwa kita.

Demikian pula tatkala mata terlelap menikmati enaknya tidur, kita rela bangun pada akhir malam untuk melaksanakan sahur. Tidak tidur lagi, tetapi kemudian menanti kedatangan waktu sholat subuh berjamaah. Sayang rasanya apabila kita tinggalkan ibadah sholat subuh berjamaah.

Selama sebulan penuh masjid & mushola penuh setiap malam. Siangnya pun masjid & mushola ramai dengan orang-orang yang ngabuburit dan tadarus atau beristirahat sekadar melepas lelah. Lisan kita basah dengan tilawah Al-Quran semua orang seolah-olah dikejar target untuk mengkhatamkan Al-Quran pada bulan yang penuh berkah.

Kita berupaya mengendalikan seluruh anggota badan agar tak tergelincir akan perbuatan noda dan dosa, lingkungan sekitar kita pun ditata sedemikian rupa agar tertutup dari perbuatan-perbuatan yang dapat mengganggu kekhusuan ibadah puasa.

Pasca Ramadhan
Namun, apa yang terjadi pasca Ramadhan?.Kebanyakan orang melupakan kebiasaan baik pada bulan Ramadhan. Masjid kembali menjadi sepi, tak ada lagi perasaan rindu akan suara adzan dan sholat berjamaah. Al-Quran tersimpan kembali di rak buku (diistirahatkan) tak sering dibaca lagi, apalagi dipahami dan diamalkan.

Demikian pula dengan lingkungan sekitar kehidupan kita, kemaksiatan kembali menggeliat. Kewajiban menutup aurat diabaikan, wanita yang wajib pakai jilbab dan kerudung bila berada di luar rumah tidak dilakukan, hukum Qur’an dan Sunnah tidak diterapkan dalam kehidupan,para penguasa tidak amanah dalam melayani rakyat dll. Hanya sedikit orang-orang yang mampu menghidupkan Ramadhan di luar bulan Ramadhan. Kita semestinya berusaha untuk mengimplementasikan hasil gemblengan selama Ramadhan dalam sebelas bulan berikutnya. Semangat meningkatkan ibadah secara ikhlas selama bulan puasa dan sikap menahan diri dari berbagai kemaksiatan kepada Allah hendaknya bisa dipertahankan meskipun kita sedih meninggalkan Ramadhan yang penuh keutamaan ini. Kita patut bertambah bersedih jika mengingat sabda Nabi SAW bahwa “Seandainya seorang muslim mengetahui rahasia keagungan/keutamaan bulan Ramadhan, ia pasti akan meminta kepada Allah agar sepanjang tahun dijadikan bulan Ramadhan”.

Selepas puasa Ramadhan seorang muslim yang taat, akan rindu kembali melaksanakan ibadah puasa lagi. Kita rindu akan pahala, ampunan, dan keridhoan-Nya. Oleh karena itu seruan untuk melaksanakan ibadah puasa sunnah syawal selama 6 hari harus kita sambut dengan antusias. Rasulullah SAW bersabda: “Siapa saja yang berpuasa Ramadhan kemudian melanjutkannya dengan puasa 6 hari pada bulan syawal, ia seperti berpuasa sepanjang masa” (HR.Muslim, At-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, An-Nasa’i, Ahmad, Ad-Darimi, Al-Baihaqi & Ibnu Hibban). Kini sudah satu bulan kita digembleng ibadah dan ketaatan selama bulan Ramadhan. Kebaikan selalu terpancar dari jiwa kita. Insya Allah pahala, ampunan, dan rahmat-Nya akan kita raih. Berusahalah untuk tidak merusak dan mematikan spirit Ramadhan dalam kehidupan kita.

Terakhir, marilah kita: (1) Tetap menahan diri dari berbagai kemaksiatan kepada Allah di luar Ramadhan; (2) Menjalankan ketaatan & kepatuhan kepada Allah dengan menjalankan seluruh kewajiban yang telah Allah bebankan kepada kita; (3) Memelihara amalan-amalan shalih pasca Ramadhan; marilah kita tetap membiasakan shaum (sunnah), qiyamul lail (tahajud), tilawah/ membaca  Al-Quran, banyak bersedekah dan berdakwah dsb. Jika semua bisa tetap kita pertahankan, insya Allah kita akan menjadi muslim yang bertaqwa, sebagaimana yang diharapkan Allah ketika Dia memerintahkan shaum Ramadhan kepada kita.

andi.sangpenakluk@gmail.com

Leave a Reply