Menyelamatkan Generasi dari Bahaya Video Porno

By 22 June 2010 Opini Mahasiswa No Comments

Pada dasarnya manusia diciptakan oleh Allah SWT ialah sebagai objek dari berbagai taklif (objek hukum). Sehingga jelas dalam menjalani kehidupan ini maka manusia baik pria maupun wanita tidak bisa terlepas dari hukum-hukum Allah, termasuk dalam interaksi pergaulan pria dan wanita juga tidak terlepas dari hukum-hukum Allah oleh karena itu interaksi pergaulan antara pria dan wanita pun haruslah sesuai dengan hukum-hukum Allah (syariat-Nya).

Namun ironisnya sudah menjadi style artis masa kini bahkan remaja atau mahasiswa, ketika bergaul mereka memisahkan ajaran agama dari aktivitasnya (baca: sekulerisme) yang tercermin dalam pergaulan yang liberal. Akibatnya, dari yang awalnya hanya “PDKT” lama kelamaan akan menjalar saling kenal, pacaran, hingga perzinaan, sampai free sex sebagai the end of this story. Bahkan pelecehan seksual bisa terjadi.

Beredarnya video pornografi mirip artis Luna Maya, Cut Tari dan Ariel Peterpen di tengah masyarakat bahkan sampai di kalangan pelajar menunjukkan bukti bahwa pergaulan yang liberal yang mempertontonkan adegan pornografi sudah mencengkram bangsa ini dan harus diperangi karena akan merusak moral generasi bangsa.Video tersebut kenyataannya telah melanggar UU No. 44/2008 tentang pornografi pasal 29 yang berbunyi setiap orang yang memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan, menyebarluaskan, di pidana paling sedikit 6 bulan dan maksimal 12 tahun oleh karena itu hukum tentang pemberantasan pornografi harus ditegakkan bukan sekadar wacana saja. Pelaku yang melakukan tindakan terkait pornografi tersebut perlu ditindak tegas. Adanya video mesum tersebut tidak lain karena dampak dari penerapan sistem sekulerisme yakni memisahkan agama dari kehidupan sehingga lahirlah pergaulan yang serba bebas tanpa memperhatikan norma agama.

Dampak Lain Sekulerisme dalam Pergaul

Jika kita mengamati fakta lebih jauh, maka kita akan menjumpai kehancuran dan kerusakan yang luar biasa akibat pergaulan bebas. Indonesia misalnya, dengan jumlah penduduk sekira 220 juta jiwa dan merupakan negeri muslim terbesar di dunia telah diperkirakan terdapat 90.000-120.000 orang yang terkena HIV/ AIDS (kedaulatan rakyat, 1/12/2007).

Berdasarkan data Depkominfo pada tahun 2007, ada 25 juta pengakses internet di Indonesia. Konsumen terbesar 90 persen adalah anak usia 8-16 tahun, 30 persen pelaku sekaligus korban pornografi adalah anak. Dua dari lima korban kekerasan seks usia 15-17 tahun disebabkan internet, 76 persen korban eksploitasi seksual karena internet berusia 13-17 tahun. Itu baru penelitian terkait dengan pornografi melalui internet belum lagi melalui media yang lain. Akibatnya suburlah praktek aborsi. Pada tahun 2008, Voice of Human Rigths melansir aborsi di Indonesia menembus angka 2,5 juta kasus, 700 ribu diantaranya dilakukan oleh remaja dibawah usia 20 tahun (majalah Al-Wai’e No.112 Tahun X, 1-31 Desember 2009).

Selain itu hasil Komisi Perlindungan Anak (KPA) terhadap 4.500 remaja di 12 kota besar mengungkapkan bahwa 97 persen remaja pernah menonton atau mengakses pornografi, 93 persen pernah berciuman bibir. Sedangkan 62,7 persen pernah berhubungan badan dan 21 persen remaja telah melakukan aborsi. (okezone.com 10/5/2010).

Fakta tersebut menunjukkan bahwa sekulerisme dalam pergaulan telah memberikan dampak yang rusak bagi semua orang khususnya remaja. Selain menimpa pada remaja pergaulan bebas pun menimpa di kalangan artis dan mahasiswa akibat diterapkannya sekulerisme kampus.

Solusi Islam dalam Pergaulan Pria dan Wanita

Sebagai sebuah Ideologi, Islam telah mengatur segala dorongan naluriah manusia, termasuk di dalamnya naluri mempertahankan keturunan (gharizatun nau’). Untuk memenuhi gharizatun nau’ Islam telah memberikan aturan yang benar-benar sesuai fitrah manusia, memuaskan akal, dan menentramkan jiwa. Aturan tersebut adalah:

Pertama, Islam telah memerintahkan kepada manusia baik pria maupun wanita untuk menundukkan pandangan (QS. An-Nur: 30-31).

Kedua, Islam memerintahkan kepada wanita untuk mengenakan pakaian secara sempurna yakni kerudung (QS. An-Nur: 31) dan jilbab (QS. Al-Ahzab: 59).

Ketiga, tidak diperbolehkan bagi seorang wanita ketika bepergian sendirian selama lebih dari sehari semalam, jauh dari tempat yang aman tanpa disertai dengan mahram. Rasulullah saw bersabda; ” Tidak diperbolehkan bagi seorang wanita yang melakukan perjalanan selama sehari semalam kecuali jika disertai dengan mahram”.

Keempat, larangan berkhalwat (berduaan).

Kelima, larangan bagi wanita keluar rumah tanpa izin dari suaminya.

Keenam, mengharuskan jama’ah pria terpisah dari jama’ah wanita.

Ketujuh, mengharuskan kerja sama antara pria dengan wanita dalam bentuk hubungan yang bersifat umum atau dalam mua’amalah, bukan hubungan khusus seperti saling mengunjungi antara pria dan wanita atau pergi bertamasya bersama antara pria dan wanita.

Demikianlah gambaran sekilas keunggulan sistem pergaulan Islam. Sistem ini telah terbukti lebih unggul dibandingkan sistem interaksi dalam sistem sosialis maupun sistem kapitalis. Namun, yang perlu diperhatikan adalah penerapan sistem pergaulan Islam harus dilaksanakan oleh individu yang bertaqwa, ditopang oleh sikap saling mengoreksi dalam masyarakat, serta penerapan hukum dan sanksi oleh khalifah Islam secara adil dan tegas.

Adanya Negara Khilafah memiliki peran yang amat penting dalam menerapkan hukum-hukum Islam, apalagi yang terkait dengan sistem pergaulan pria dan wanita. Itu semua dibangun oleh: Pertama, sikap tegas aparat dalam menegakkan sanksi atas pelanggaran, yang didahului dengan upaya pencegahan berupa pendidikan dan sosialisasi. Kedua, seluruh hukum Islam wajib diterapkan oleh Negara sehingga hukum tentang pergaulan menjadi satu bagian yang tak terpisahkan. Dengan demikian adanya Khilafah merupakan suatu hal yang wajib untuk diadakan agar pornografi dapat diberantas untuk menyelamatkan generasi.

Andi Perdana Gumilang, S.Pi

Sumber : detik.com, okezone.com, media-indonesia.com

Leave a Reply